Showing posts with label Pesantren. Show all posts
Showing posts with label Pesantren. Show all posts

Thursday, 14 August 2014

Penilaian Kognitif, Afektif dan Psikomotorik

seorang murid berbeda dengan murid yang lain
Ada yang tahu apa itu definisi kognitif, afektif dan psikomotorik ?

Seorang guru atau ustadz atau kiyai pasti menginginkan santri-santri, murid-murid / siswanya pintar, bukan? selain aspek pintar secara teori dan intelektualitasnya seorang murid juga sangat diharapkan mempunyai kecerdasan yang seimbang baik kecerdasan intelektualnya, esmosionalnya dan spiritual. Aspek penilaian seorang guru hendaknya seimbang, tidak hanya menilai segi kognitif saja yang terkadang membuat seorang siswa yang kurang dalam segi kognitif seperti hapalan merasa tertekan, sebagian murid ada yang lebih menonjol dalam bidang psikomotorik seperti bidang seni atau olahraga.

Kecerdasan seseorang tidak lagi hanya terpaku dalam kecerdasan intelektual saja yang dikenal dengan kecerdasan kognitif, namun seorang guru juga hendaknya memperhatikan kecerdasan yang lain yaitu kecerdasan affektif, dan psikomotorik.

1. Kognitif

Kecerdasan ini lebih memperhatikan pada kemapuan berfikir murid, intinya segala yang mencakup aktifitas otak. ada 6 aspek di dalam ranah kognitif, yaitu :

a. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
b. Pemahaman (comprehension)
c. Penerapan (application)
d. Analisis (analysis)
e. Sintesis (syntesis)
f. Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)

2. Afektif

Kecerdasan ini berkaitan dengan watak prilaku, sikap, perasaan, minat, emosi dan nilai. seorang guru bisa menilai seorang murid seberapa baik murid itu dalam kecerdasan afektif dengan memperhatikan prilaku si murid tersebut sehari-harinya di kelas.

ada lima aspek yang bisa dinilai oleh seorang guru untuk kecedasan afektif muridnya:
a. Receiving atau attending ( menerima atua memperhatikan)
b. Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”
c. Valuing (menilai atau menghargai)
d. Organization (mengatur atau mengorganisasikan)
e. Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan  suatu nilai atau komplek nilai)

3. Psikomtorik

Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan atau skil, seperti skil dalam berolahraga atau seni. Dengan melakukan beberapa tes seorang guru bisa mengetahui seberapa sukses hasil belajar siswa dengan seberapa baguskah kemampuan psikomotorik murid/siswanya, setelah belajar apakah skil atau kemampuan muridnya tambah bagus atau tidak ? namun aspek psikomotorik ini sebenarnya ada hubungan dengan aspek kognitif (pemahaman) dan afektif (tindakan) seorang murid.

NB : Diolah dari berbagai sumber



BACA SELENGKAPNYA>>>>

Saturday, 9 August 2014

Makan Berjamaah Ala Santri

Makan bersama dan makan sendiri-sendiri terasa berbeda kenikmatannya, makan bersama/berjama'ah rasanya lebih nikmat dan insyaAllah lebih barokah daripada makan sendiri-sendiri. Bahkan makan berjamaah merupakan sunnah Rasulullah dan tentu akan berpahala jika dilaksanakan. Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda :

"فَاجْتَمِعُوْا عَلَى طَعَامِكُمْ، فَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهَ عَلَيْهِ! يُبَارَكْ لَكُمْ فِيْهِ." 



“Berkumpullah kalian ketika makan dan sebutlah Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala padanya, maka makanan kalian akan diberkahi.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya - IV/138. Kitaabul Ath’imah bab Fii Ijtimaa’ ‘alath Tha’aam, Ibnu Majah dalam Sunannya - II/1093. Kitaabul Ath’imah bab al-Ijtimaa’ ‘alath Tha’aam, Imam Ahmad dalam Musnadnya - III/501, Ibnu Hibban dalam Shahihnya - VII/317. Kitaabul Ath’imah, Dzikrul Amri ‘alal Ijtimaa’ ‘alath Tha’aam, Rajaa-al Barakah fil Ijtimaa’ ‘Alaih.)


Kemudian adab makan hendaklah makan dengan menggunakan tangan kanan dari dimulai dari sisinya dulu jangan langsung tengah, Dan termasuk diantara sunnah nabi 'alaihi shallatu wasallam apabila seorang makan, maka janganlah dia makan mengambil bagian tengahnya. Namun henaknya dia mengambil bagian pinggirnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu ta'ala anhuma bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan:


الْبَرَكَةُ تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَامِ فَكُلُوا مِنْ حَافَتَيْهِ وَلَا تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ

“Berkah itu turun di tengah-tengah makanan, maka mulailah makan dari pinggirnya dan janganlah mulai makan dari tengahnya.” (HR Abu Dawud no. 3772, Ahmad, 2435, Ibnu Majah, 3277 dan Tirmidzi, 1805. Imam Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini hasan shahih.”)

Demikian pula hadits nabi shallallahu 'alaihi wasallam tatkala beliau mengatakan kepada Umar bin Abu Salamah:


يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022)

Sederhana tapi Ni'mat
makanan sederhana

ngarujak bareng

Makan Besar Santri

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Tuesday, 31 January 2012

Pesantren, Santri dan Kebodohan

Pesantren atau kata yang lebih lengkap dan populer sering disebut pondok pesantren (Ponpes) adalah sebuah kata yang berasal dari santri dengan awalan pe- dan akhiran -an yang berarti tempat tingagal santri sebagaimana salah satu makna dari awalan pe- dan akhiran -an dapat menunjukan tempat seperti perumahan, persembunyian, pemakaman dan sebagainya . Sedangkan arti santri sendiri seperti apa ? menurut kamus besar bahasa Indonesia ( KBBI) santri adalah kata benda yang mempunyai dua makna, pertama orang yang mendalami agama Islam, yang kedua orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh, orang sholeh. Dengan begitu pesantren bisa diartikan tempat orang berkumpul untuk belajar Islam.

Pondok pesantren menurut pandangan guru saya yang orang sunda, pondok dalam bahasa sunda artinya pendek, beliau mengartikan bahwa seorang santri yang mondok di pesatren hendaknya ia bisa memendekan hawa nafsu, bermain-main, tidur dan memendekan segala amal dan perbuatan yang tidak baik lainnya, mafhum mukholafah-nya ia dilarang memanjangkan atau memperbanyak menuruti hawa nafsu, bermain-main, tidur dan amal yang tidak baik lainnya. Namun sebenarnya Pondok pesantren secara definitif tidak dibatasi secara tegas melainkan mengandung pengertian yang fleksibel. Jadi belum ada pengertian dan definisi kongkrit karena untuk mengetahui hakikat makna kata "pesantren" secara komperhensif perlu meliputi beberapa unsur.

Sesuai dengan perkembangan dan dinamika zaman yang terus berubah secara cepat tanpa bisa di-rem, maka definisi dan persepsi tentang pondok pesantren menjadi berubah pula. Pada tahap awal pesantren diidentikan dan diberi makna sebagai lembaga pendidikan tradisional, namun zaman sekarang jika pondok pesantren dianggap hanya sebagai lembaga pendidikan tradisional tidak lagi benar 100%.

Ada beberapa pembagian pondok pesantren :

Pesantren salafi : pesantren yang mempertahankan pelajaran dan kurikulum dengan menggunakan metode tradisional misal "sorogan" dan "bandongan" menggunakan kitab kitab klasik dan kurikulum pesantren tersebut tidak dicampuri dengan pelajaran umum, biasanya model pesantren seperti ini masih mempertahankan kemurnian identitas pesantren sebagai sarana "tafaqquh fiddin" mendalami agama, semua kurikulum biasanya berasal atau bersumber dari kitab-kitab klasik yang ditulis ulama terdahulu, pesantren model ini masih bisa kita temui sampai sekarang seperti pesantren Kempek, Cirebon Jawa Barat, pesantren Lirboyo, di kediri jawa timur dan lain-lain.

Pesantren kholafi atau modern : pesantren yang menerapkan sistem pengajaran secara madrasah atau klasikal selain mempelajari ilmu agama juga mempelajari ilmu umum dan membekali santrinya dengan keterampilan semisal keahlian bahasa inggris, bahasa arab, menulis, melukis dan sebagainya. biasanaya merka mempunyai kurikulum sendiri dan tidak menhikuti kurikulum nasional yang ditetapkan oleh pemerintah sehingga ijazah yang dikeluarkan pesantren tersebut perlu mendapatkan lisensi dari pemerintah untuk mendapatkan pengakuan kesetaraan. Medel pesantren seperti ini adalah pondok modern Gontor, Ponorogo Jawa Timur.

Pesantren yang menggabungkan metode salaf dan kholaf: pesantren yang mempelajari kitab-kitab klasik dan juga mempelajari pelajaran umum pesantren jenis ini biasanya mempunyai lembaga pendidikan formal sendiri baik berbentuk madrasah (dalam naungan depag) dengan jenjang pendidikan dari ibtidaiyyah sampai Perguruan Tinggi yang tidak hanya meliputi fakultas keagamaan saja namun juga fakultas umum. Contohnya adalah Pesantren Tebu Ireng, Jombang jawa Timur.

Pesantren kilat : pesantren yang berbentuk seperti pelatihan dan sistem pembelajaran secara cepat dan relatif singkat (sebagaimana asal kata kilat yang berarti cepat ) biasanya pesantren ini diadakan ketika liburan sekolah atau pada bulan Ramadhan.

Kesan santri yang dulu seakan dianggap kampungan, kusut, kumal dan budugan sekarang sudah mulai berubah dengan banyaknya pesantren yang melakukan inovasi dalam sistem pendidikan dan kurikulum pesantrennya, sekolah-sekolah umum yang mulai banyak dan beragam semakin menggiurkan para urang tua untuk memasukan anaknya ke sekolah umum karena pandangan dan pikiran mereka yang menggambarkan bahwa pendidikan di sekolah umum lebih menjamin masa depan daripada pesantren, sedikit banyaknya mempengaruhi kuantitas orang yang mau masuk ke pesantren tradisional yang hanya mempelajari ilmu agama saja (menurut pengamatan penulis sendiri), mungkin dengan cara menggabungkan metode tradisional dan modern akan membuat para orang tua calon santri bisa lebih tertarik untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren, namun sepertinya pembahasan dinamika pondok pesantren memerlukan pembahasan yang cukup panjang, namun disini saya akan mencoba untuk sedikit menggambarkan bagaiman keadaan seorang santri ketika mereka menimba ilmu di pondok pesantren.

Penulis sendiri dulu adalah seorang santri pondok pesantren salafiyyah atau tradisional, saya dulu adalah seorang santri yang kurang konsisten dan istiqomah, maka dari itu saya sering pidah dari satu pesantren ke pesnatren lain, setidaknya ada sekitar 3 pesantren yang telah saya singgahi dalam kurun waktu 4 tahun, dengan segala kekurangan dan kelebihan pesantren masing-masing sudah cukup saya ketahui dan alami. ^_^

pada intinya yang perlu kita ketahui dan sadari bahwa santri adalah seorang pejuang, mujahidin fi sabilillah, mereka berjihad melawan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejelekan dan kejahatan, berjihad dan berjuang melawan kebodohan, menghilangkan kebodohan dengan terus belajar dan terus mem'bunuh' semua sifat negatif . Mereka adalah salah satu penyebab kefarduan kifayah kepada sebagian muslim untuk memperdalami ilmu syari'ah bisa terpenuhi, sehingga gugurlah kewajiban kepada muslim yang lain, karena jika tidak ada seorangpun yang mendalami syariat maka berdosalah semua umat islam !! Santri adalah penerus, pengganti ulama yang telah wafat, kalau bukan santri siapa lagi ? sebuah syair dari alfiyah yang cocok dengan hal ini :

 وما يلي المضاف يأتي خلفا # عنه في الإعراب إذا ما حذفا




BACA SELENGKAPNYA>>>>

Tuesday, 24 January 2012

Negeri Sejuta Pesona I

Ketika melihat anak-anak kecil damascus yang sedang belajar mengaji dan "talaqi qiroat" ke syeikh Samir ingatan saya terlempar beberpa tahun ke belakang saya teringat masa-masa kecil yang begitu lugu dan polosnya ketika dimasukan ke pondok pesantren "salafiyah" mengapa di sebut salafiyah ? Karena pondok tersebut masih menggunakan sistem pembelajaran tradisional misal memperlajari kitab kuning (istilah untuk kitab-kitab berbahasa arab gundul yg dicetak dengan kertas berwarna kuning maupun putih) secara "bandongan" dan "sorogan" yang telah diajarkan sejak zaman dahulu oleh pendahulu ulama kita dan biasanya di pesantren model ini hanya mempelajari kitab-kitab kuning saja dari berbagai macam atau cabang keilmuan dalam khazanah islam dimulai dari nahwu, shorof yang merupakan ilmu kunci bagi setiap santri yang ingin mempelajari ilmu keagamaan lebih jauh, diibaratkan keduanya itu ibu bapak dari cabang ilmu lainya yang sebab dari keduanya bisa mendapat atau mengusai cabang ilmu yang lainya semisal ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu ushul fiqh, ilmu balaghoh (bayan, majaz dll), ilmu tafsir, ilmu hadits dan sebagainya namun sekarang pesantren mulai ber"evolusi" dengan adanya pondok-pondok modern semisal Gontor yang juga mempelajari bahasa Inggris dan pelajaran umum, dan adapula pondok pesantren yang semi modern, yaitu memadukan antara dua metode antara tradisional dan modern. 

Selalu ada masa-masa yang tidak bisa dilupakan di pondok dulu, mulai dari sendal yang selalu hilang entah dipakai oleh siapa alias di "ghoshob", ketika ada santri yang datang setelah cuti liburan dan ia "wajib" membawa "adrahi atau IN" (oleh-oleh biasanya berupa makanan) dan langsung di serbu oleh kawan kawan santri yang ngga tahu kenapa perasaannya itu lapar terus hihihihi, mungkin memang begitulah santri yang kurang makan :) melihat santri yang hafal kitab-kitab semisal alfiyah, imriti, nadhom maqsud, dan sebaginya rasanya ingin seperti mereka, rasnya itu "panas" di telinga seakan ia menyindir diriku, "aku saja bisa kok kamu ga bisa!!", santri yang nakal yang suka pacaran secara sembunyi-sembunyi, namun sebaik-baik tupai meloncat pasti jatuh juga :) sebaik-baik menyembunyikan ketahuan juga akhirnya, surat-suratan dengan santriah (alhamdulillah saya belum pernah ^^) main sepak bola memakai sarung, hahaha dan masih banyak moment yang unforgotable lainya :) 

namun satu hal yang perlu di garis bawahi bahwa mereka para santri adalah seorang penuntut ilmu yang sedang berjuang di jalan Allah untuk menghidupkan ilmu-ilmu agama sekaligus mengangkat sebuah kewajiban fardhu kifayah untuk mempelajari dan memperdalami ilmu agama yang berarti kewajiban mempelajari cabang-cabang ilmu kepada orang-orang muslim dipenuhi dan digugurkan oleh mereka, namun ilmu agama mulai hilang seiring dengan wafatnya ulama, ilmu diangkat oleh Allah dengan wafatnya ulama, sedih rasanya jika ada berita ada kiai atau ulama yang meninggal yang bertanda ilmu sudah diangkat, santri adalah sebagai penerus para ulama, ya mereka adalah penerus, tonggak perjuangan ada pada punduk mereka, kalau bukan santri siapa lagi ? 


Ruknudien, Damascus 




Masjid Umawi



BACA SELENGKAPNYA>>>>

Sunday, 17 July 2011

Mengapa Anda Belajar Bahasa Arab?

Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan secara luas di planet ini. Bahasa Arab merupakan bahasa utama dari 22 negara, digunakan oleh lebih dari 250 juta orang. Bahasa ini juga merupakan bahasa resmi pada negara-negara yang mayoritas Muslim karena dianggap sebagai bahasa spiritual Islam - salah satu agama-agama besar dunia (kita membicarakan tentang lebih dari 2 miliar orang!). Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tetap di organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Alasan lain yaitu bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua yang hidup di dunia, dan merupakan bahasa asli dari banyak bahasa, bahkan ada teori yang menyatakan bahwa "bahasa Arab merupakan asal dari bahasa-bahasa" dan mereka yang mengadopsi teori ini berlandaskan pada kenyataan bahwa orang Arab dapat melafalkan suara apapun dalam bahasa manapun di dunia dengan mudah, di lain pihak banyak orang-orang bukan-Arab yang kesulitan mengucapkan beberapa huruf Arab yang tidak terdapat dalam bahasa asli mereka (contohnya huruf dhad tidak digunakan dalam bahasa manapun di dunia, dan bahasa Arab sering disebut sebagai bahasa dhad).

Memang sepantasnya seorang muslim mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.”(Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Syaikhul Islam Berkata: “Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah:

مَا لاَ يَتِمٌّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.”

Namun disana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah. Dan hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Umar bin Yazid, beliau berkata: Umar bin Khattab menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya) “…Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan I’roblah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab.”
Dan pada riwayat lain, Beliau (Umar bin Khattab) berkata: “Pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian, dan belajarlah faroidh (ilmu waris) karena sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Arti Kata Santri

Kata santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti [n] (1) orang yg mendalami agama Islam; (2) orang yg beribadat dng sungguh-sungguh; orang yg saleh.
Akan tetapi saya punya definisi berbeda arti dari santri tersebut menurut saya, Santri adalah bahasa serapan dari bahasa inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu SUN dan THREE yang artinya tiga matahari.

matahari adalah titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yg mendatangkan terang dan panas pd bumi pada siang hari. seperti kita ketahui matahari adalah sumber energi tanpa batas, matahari pula sumber kehidupan bagi seluruh tumbuhan dan semuanya dilakukan secara ikhlas oleh matahari. namun maksud tiga matahari dalam kata SUNTHREE adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari dipesantren menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah secara sungguh-sungguh, berpegang teguh kepada aturan islam. serta dapat berbuat ihsan kepada sesama.

Namun para ilmuan tidak sependapat dan saling berbeda tentang pengetian santri. Ada yang menyebut, santri diambil dari bahasa ‘tamil’ yang berarti ‘guru mengaji’, ada juga yang menilai kata santri berasal dari kata india ‘shastri’ yang berarti ‘orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci’.

Selain itu, pendapat lainya meyakini bahwa kata santri berasal dari kata ‘Cantrik’ (bahasa sansekerta atau jawa), yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Sedang versi yang lainya menganggap kata ‘santri’ sebagai gabungan antara kata ‘saint’ (manusia baik) dan kata ‘tra’ (suka menolong). Sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.
Dalam praktik bahasa sehari-hari, istilah ‘santri’ pun memiliki devariasi yang banyak. Artinya, pengertian atau penyebutan kata santri masih suka-suka alias menyisakan pertanyaan yang lebih jauh. Santri apa, yang mana dan bagaimana?

Ada santri profesi, ada santri kultur. ‘Santri Profesi’ adalah mereka yang menempuh pendidikan atau setidaknya memiliki hubungan darah dengan pesantren. Sedangkan ‘Santri Kultur’ adalah gelar santri yang disandangkan berdasarkan budaya yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
Dengan kata lain, bisa saja orang yang sudah mondok di pesantren tidak disebut santri, karena prilakunya buruk. Dan sebaliknya, orang yang tidak pernah mondok di pesantren bisa disebut santri karena prilakunya yang baik.

Dari segi metode dan materi pendidikan, kata ‘santri’ pun dapat dibagi menjadi dua. Ada ‘Santri Modern’ dan ada ’Santri Tradisional’ – Seperti juga ada pondok modern dan ada juga pondok tradisional. Sedang dari segi tempat belajarnya, ada istilah ‘santri kalong’ dan ‘santri tetap’. Santri kalong adalah orang yang berada di sekitar pesantren yang ingin menumpang belajar di pondok pada waktu-waktu tertentu.

Walapun ketika kembali kemasyarakat santri tidak semuanya berprofesi jadi kyai maupun ustadz, ada yang berprofesi sebagai karyawan, pengusaha, pedagang dan banyak lainya, namun diharapkan santri tetap menjadi santri walaupun hanya berprofesi sebagai pedagang, jadilah pedagang yang benar ala santri.

Saya punya satu lagi definisi kata santri yaitu serapan dari bahasa jawa / melayu yang bersal dari kata ngantri, memang tak dapat dipungkiri bahwa dikehidupan sehari-harinya seorang santri tidak luput dari ngantri entah itu mandi, makan, BAB, nyuci dan lain sebagainya
Begitulah kira-kira arti santri, mungkin diantara pembaca ada yang ingin memberikan definisi lain dari santri silahkan post saja dikomen
http://santri-bantat.blogspot.com/2010/08/arti-dan-makna-santri.html

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Tuesday, 28 June 2011

Definisi Pondok Pesantren

Pengertian pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe-dan akhiran -an berarti tempat tinggal santri. Soegarda Poerbakawatja yg dikutip oleh Haidar Putra Daulay mengatakan pesantren berasal dari kata santri yaitu seseorang yg belajar agama Islam sehingga dgn demikian pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam. Ada juga yg mengartikan pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yg bersifat “tradisional” utk mendalami ilmu tentang agama Islam dan mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian (2004: 26-27).

Dalam kamus besar bahas Indonesia pesantren diartikan sebagai asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji. Sedangkan secara istilah pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dimana para santri biasa tinggal di pondok (asrama) dengan materi pengajaran kitab-kitab klasik dan kitab-kitab umum bertujuan untuk menguasai ilmu agama Islam secara detail serta mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian dengan menekankan penting moral dalam kehidupan bermasyarakat (Fenomena 2005: 72).

Pondok pesantren secara definitif tak dapat diberikan batasan yg tegas melainkan terkandung fleksibilitas pengertian yg memenuhi ciri-ciri yg memberikan pengertian pondok pesantren. Jadi pondok pesantren belum ada pengertian yg lbh konkrit krn masih meliputi beberapa unsur utk dapat mengartikan pondok pesantren secara komprehensif (Artikel 1).


Maka dgn demikian sesuai dgn arus dinamika zaman definisi serta persepsi terhadap pesantren menjadi berubah pula. Kalau pada tahap awal pesantren diberi makna dan pengertian sebagai lembaga pendidikan tradisional tetapi saat sekarang pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional tak lagi selama benar.

Tipologi Pondok Pesantren

Seiring dgn laju perkembangan masyarakat maka pendidikan pesantren baik tempat bentuk hingga substansi telah jauh mengalami perubahan. Pesantren tak lagi sesederhana seperti apa yg digambarkan seseorang akan tetapi pesantren dapat mengalami perubahan sesuai dgn pertumbuhan dan perkembangan zaman.
Menurut Yacub yg dikutip oleh Khozin mengatakan bahwasa ada beberapa pembagian pondok pesantren dan tipologi yaitu :

Pesantren Salafi yaitu pesantren yg tetap mempertahankan pelajaran dgn kitab-kitab klasik dan tanpa diberikan pengetahuan umum. Model pengajarannyapun sebagaimana yg lazim diterapkan dalam pesantren salaf yaitu dgn metode sorogan dan weton.
Pesantren Khalafi yaitu pesantren yg menerapkan sistem pengajaran klasikal (madrasi) memberikan ilmu umum dan ilmu agama serta juga memberikan pendidikan keterampilan.
Pesantren Kilat yaitu pesantren yg berbentuk semacam training dalam waktu relatif singkat dan biasa dilaksanakan pada waktu libur sekolah. Pesantren ini menitik beratkan pada keterampilan ibdah dan kepemimpinan. Sedangkan santri terdiri dari siswa sekolah yg dipandang perlu mengikuti kegiatan keagamaan dipesantren kilat.
Pesantren terintegrasi yaitu pesantren yg lbh menekankan pada pendidikan vocasional atau kejuruan sebagaimana balai latihan kerja di Departemen Tenaga Kerja dgn program yg terintegrasi. Sedangkan santri mayoritas berasal dari kalangan anak putus sekolah atau para pencari kerja. (2006:101)
Sedangkan menurut Mas’ud dkk ada beberapa tipologi atau model pondok pesantren yaitu :

Pesantren yg mempertahankan kemurnian identitas asli sebagai tempat menalami ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi-I-din) bagi para santrinya. Semua materi yg diajarkan dipesantren ini sepenuh bersifat keagamaan yg bersumber dari kitab-kitab berbahasa arab (kitab kuning) yg ditulis oleh para ulama’ abad pertengahan. Pesantren model ini masih banyak kita jumpai hingga sekarang seperti pesantren Lirboyo di Kediri Jawa Timur beberapa pesantren di daeah Sarang Kabupaten Rembang Jawa tengah dan lain-lain.
Pesantren yg memasukkan materi-materi umum dalam pengajaran namun dgn kurikulum yg disusun sendiri menurut kebutuhan dan tak mengikuti kurikulum yg ditetapkan pemerintah secara nasional sehingga ijazah yg dikeluarkan tak mendapatkan pengakuan dari pemerintah sebagai ijazah formal.
Pesantren yg menyelenggarakan pendidikan umum di dalam baik berbentuk madrasah (sekolah umum berciri khas Islam di dalam naungan DEPAG) maupun sekolah (sekolah umum di bawah DEPDIKNAS) dalam berbagai jenjang bahkan ada yg sampai Perguruan Tinggi yg tak hanya meliputi fakultas-fakultas keagamaan meliankan juga fakultas-fakultas umum. Pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur adl contohnya.
Pesantren yg merupakan asrama pelajar Islam dimana para santri belajar disekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi diluarnya. Pendidikan agama dipesantren model ini diberikan diluar jam-jam sekolah sehingga bisa diikuti oleh semua santrinya. Diperkirakan pesantren model inilah yg terbanyak jumlahnya. (2002:149-150)
Dinamika Pondok Pesantren

Dalam perspektif sejarah lembaga penidikan yg terutama berbasis di pedesaan ini telah mengalami perjalanan sejarah yg panjang sejak sekitar abad ke 18. seiring denga perjalanan waktu pesantren sedikit demi sedikit maju tumbuh dan berkembang sejalan dgn proses pembangunan serta dinamika masyarakatnya. Ini menunjukkan bahwa ada upaya-upaya yg dilakukan pesantren utk mendinamisir diri sejalan dgn tuntutan dan perubahan masyarakatnya.
Dinamika lembaga pendidikan Islam yg relatif tua di Indonesia ini tampak dalam beberapa hal seperti :

Peningkatan secara kuantitas terhadap jumlah pesantren. Tercatat di Departemen Agama bahwa pada tahun 1977 ada 4195 pesantren dgn jumlah santri 677.384 orang. Jumlah tersebut menjadi 5661 pesantren dgn 938.397 santri pada tahun 1981 kemudian meningkat menjadi 15.900 pesantren dgn jumlah santri 59 juta orang pada tahun 1985.
Kemampuan pesantren utk selalu hidup ditengah-tengah masyarakat yg sedang mengalami berbagai perubahan. Pesantren mampu memobilisasi sumber daya baik tenaga maupun dana serta mampu berperan sebagai benteng terhadap berbagai budaya yg berdampak negatif. Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yg mempunyai kekuatan utk survive. Dan pesantren juga mampu mendinamisir diri ditengah-tengah perubahan masyarakatnya. Secara sosiologis ini menunjukkan bahwa pesantren masih memiliki fungsi nyata yg dibutuhkan masyarakat. (Khozin2006:149)
Sedangkan perkembangan secara kuantitatif maupun kemampuan bertahan ditengah perubahan tak otomatis menunjukkan kemampuan pesantren utk bersaing dalam memperebutkan peserta didik. Seperti Dhofir mengatakan (1992) bahwa dominasi pesantren di dunia pendidikan mulai menurun secara drastis setelah tahun 1950-an. Salah satu faktor adl lapangan pekerjaaan “modern” mulai terbuka bagi warga Indonesia yg mendapat latihan di sekolah-sekolah umum. Akan tetapi setelah proklamasi kemerdekaan pemerintah lbh memberikan perhatian terhadap sistem pendidikan nasional dengan membangun sekolah-sekolah umum dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa beberapa pesantren ada yg tetap berjalan meneruskan segala tradisi yg diwarisi secara turun temurun tanpa perubahan dan inprovisasi yg berarti kecuali sekedar bertahan. Namun ada juga pesantren yg mencoba mencari jalan sendiri dgn harapan mendapatkan hasil yg lbh baik dalam waktu yg singkat. Pesantren semacam ini adl pesantren yg menyusun kurikulum berdasarkan pemikiran akan kebutuhan santri dan masyarakat sekitarnya.

Maka dari pada itu apapun motif perbincangan seputar dinamika pesantren memang harus diakui mempunyai dampak yang besar contoh semakin dituntut dgn ada teknologi yg canggih pesantrenpun tak ketinggalan zaman utk selalu mengimbangi dari tiap persoalan-persoalan yg terkait dgn pendidikan maupun sistem di dalam pendidikan itu sendiri mulai dari sisi mengaji ke mengkaji. Itupun merupakan sebuah bukti konkrit di dalam pesantren itu sendiri bahwa mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Karena pesantren tak akan pernah mengalami statis selama dari tiap unsur-unsur pesantren tersebut bisa menyikapi dan merespon secara baik apa yg paling aktual. (Mas’ud dkk 2002:72-73).

sumber:http://blog.re.or.id/pondok-pesantren-sebagai-lembaga-pendidikan-islam.htm

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Tuesday, 21 June 2011

12 Bidang Ilmu

Dalam dunia Pesantren, khususnya Pesantren Salaf (baca:Tradisional), keilmuan seseorang sudah bisa dikatakan mapan ketika dia sudah mempelajari dan menguasai 12 bidang ilmu. Setiap pesantren dengan pesantren lainya mempeunyai kurikulum masing-masing yang munkin berbeda sesuai dengan nilai historis pesantren tersebut. Penulis mendapatkan 12 bidang ilmu itu yang dikemas dalam Bahar Basith (syair arab ):
Nadhm (bait sya’ir) tersebut adalah:
Shorfun Bayanun Ma’ani Nahwu Qofiyatun # Syi’run Arudlun Isytiqoqun Khottun Insyaau
Munadhoroh wa tsani ‘asyruha Lughot # tilkal ‘ulumu laha adabul asmaau


1. Shorfun = Shorof
Ilmu ini membahas tentang morfologi suatu kalimah (kata) dalam bahasa arab. Perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain untuk menghasilkan ma’na yang dimaksud. Contoh dari Fi’il Madli (kata kerja lampau) ke bentuk Fi’il Mudlori’ (kata kerja sekarang dan mendatang), Mashdar (kata benda), Isim Fa’il (pelaku/subyek), Isim Maf’ul (kata benda objek), dan lainnya. Kitab Panduan yang digunakan biasanya Matan Bina, Kailany, Fathul Khobirul Latif, Nadhm Maqshud, dan Lamiyatul Af’al.
2. Bayanun = Bayan
Lebih sukar dari ilmu Shorof, ilmu ini membahas tentang majas dan perumpaman dalam bahasa arab. Seperti halnya ilmu Shorof, ilmu ini juga hanya membahas satu kalimah (kata) tanpa melihat hubungannya dengan kalimah yang lain. Misalnya dalam penggunaan lafadh Ashobi’ahum dalam ayat Yaj’aluun Ashobi’ahum fi adzaanihim dalam surat Al Baqoroh. Kata ashobi’ahum tersebut tidak dima’nai sebagai “jari-jari mereka”, tapi dima’nai sebagai “ujung jari-jari mereka”. Karena gak mungkin toh memasukkan jari ke telinga, yang mungkin memasukkan ujungnya saja. Dalam ayat tersebut, ilmu Bayan menamainya dengan nama Majas, sering disebut termasuk bab min ithlaaqil kul wairodatil juz , yang disebutkan adalah bentuk keseluruhan (jari-jari), tapi yang dimaksud adalah sebagian (ujung jari-jari). Atau dalam kalimat roaitu asadan, asadan dalam ma’na aslnya adalah singa adapun dalm konteks ini asad berma’na pemuda yang gagah. Pemuda di ibaratkan singa karena ada kesamaan dalam hal gagah.
3. Ma’ani = Ma’ani
Mirip dengan ilmu Bayan, ilmu ini juga terasa lebih sukar (kalo belajrnya serius mah insyaallah bisa ). Pembahasan ilmu ini lebih ke penambahan ma’na yang timbul karena terjadi perubahan susunan kalimah bahasa arab. Jadi, ilmu ini tidak hanya membahas satu kalimah saja, tapi melihat hubungannya dengan kalimah yang lain. Misalnya pembuangan Mubtada dari struktur Mubatada Khobar dalam bahasa arab. Salah satu ma’na yang timbul adalah untuk Memuliakan objek yang ditunjuk oleh Mubtada tersebut.
4. Nahwu = Nahwu
Ilmu ini mungkin yang lebih sering terdengar berpasangan dengan ilmu Shorof. Biasanya orang bilang ilmu Nahwu Shorof. Memang fenomena itu sudah dari dulu diungkapkan oleh ulama dahulu. Para ulama bahkan menyebutkan bahwa As Shorfu Ummul ‘Ulum wa Nahwu Abuha. Ilmu Shorof adalah ibunya segala ilmu dan Ilmu Nahwu adalah bapaknya. Ilmu ini membahas gramatikal bahasa arab seperti bagaimana status jabatan kalimah (kata) dalam suatu kalam (kalimat). Apakah dia menjadi Fa’il (pelaku/subjek), Maf’ul (objek), Na’at (sifat), dan lainnya. Seperti halnya ilmu Ma’ani, ilmu ini otomatis membahas keterkaitan suatu kalimah dengan kalimah yang lainnya. Contohnya lafadh Ar Rohman pada bacaan basmalah adalah Na’at dari lafadh Jalalah (Allah).
5. Qofiyatun = Qofiyah Fan (ilmu) ini mengatur bagaiman ujung satar awal harus sama dengan ujung satar tsani dalam suatu bait. Satar adalah potongan setengah bait dari suaatu nadhm. Misalnya kita punya suatu Nadhm
Al Hamdulillahil ladzi qod waffaqo # Lil ‘ilmi khoiro kholqihi wa lit tuqo
Dari bait di atas, satu satar adalah dari Al Hamdulillah sampai waffaqo. Yang saya contohkan adalah Bahar Rojaz dimana satar awal harus sama rimanya dengan satar Tsani. Tapi, di bahar yang lain ketentuan itu berbeda.
6. Syi’run = Syi’ir
Ilmu ini membahas tentang bagaiman cara membuat suatu Syi’iran tentunya dalam bahasa arab. Penulis tidak bisa menctohkan karena belum pernah mengkaji ilmu ini.
7. ‘Arudl = ‘Arudl
Nah, tadi kita sedikit menyinggung masalah bahar. Dalam ilmu inilah istilah Bahar itu dipelajari. Bagaimana suatu nadhm bisa disusun dengan menggunakan enam belas bahar yang sudah ada. Salah satu kitab yang penulis tahu adalah Mukhtashor Syafi.
8. Isytiqoqun = Isytiqoq
Pencetakan suatu lafadh dari lafadh yang lain adalah objek kajian ilmu ini. Jika kita ingin tahu, sebenarnya lafadh Allah-pun dicetak dari lafadh Ilahun setelah melalui perubahan-perubahan. Demikian pula dengan lafadh-lafadh yang lain.
9. Khottun = Khot
Tulisan bahasa arab pun ada tata cara penulisannya. Nah, tata cara penulisan tersebut menjadi kajian ilmu ini. Dalam bahasa arab ada standar tujuh jenis tulisan, yaitu Naskhi, Kufi, Tsulusi, Riq’ah, Diwani, Diwani Jali, dan Farisi. Kitab yang penulis tahu, belum ada yang membahas ilmu ini.
10. Insyaau = Insya
Ilmu ini membahas bagaiman membuat suatu kalam (kalimat) yang benar dalam bahasa arab. Biasanya latihan ilmu ini adalah dengan menyusun kalam dari runtutan kalimah yang sembarang.
11. Munadhoroh = Munadhoroh
Kadang kala kita perlu ber-Munadhoroh (argumen) dengan pendapat orang lain. Nah, supaya argumen yang diungkapkan sesuai dengan aturan, dibuatlah ilmu ini.
12. Lughot = Lughot
Ilmu ini membahas tentang mufrodat (kosa kata) dalam bahasa Arab. Semisal vocabulary dalam bahasa Inggris.


Nah, itulah versi 12 fan ilmu yang biasa didalami di pesantren salaf. Jika ada yang pernah mendengar versi yang lain, silakan ditulis coment. Tidak hanya ilmu itu yang harus kita pelajari, masih banyak dan tidak akan bisa hitung jumlah ilmu yang harus kita pelajari khususnya di bidang agama Islam. Semoga Allah meng-Istiqomah-kan kita agar tetap setia menjadi Thoolibul ‘Ilmi. Karena keutamaan yang Allah tawarkan sangatlah besar bagi orang pencari ilmu.
Wallahu a’lam.

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Saturday, 18 June 2011

Wallpaper Ramadhan [Click Zoom Photos]













Wallpaper Ramdhan yang unik dan menarik, Wallpaper Romadhon, Ramadhan Karim

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Thursday, 16 June 2011

Pikiran Positif dan Negatif

Robert Redenbach dalam “ Perform with Confident” (1987), mengingatkan pentingnya pengendalian pikiran dalm membangun hubungan dan kepercayaan. Menurutnya, akal akan menghasilkan pikiran positif dan pikiran negatif secara bergantian setiap saat. Umumnya banyak orang yang lebih menyukai pikiran negative daripada positif, mungkin karena fikiran negatife lebih sering dianggap lebih menarik dan lebih berwarna dan hanya memerlukan sedikit usaha untuk memproduksinya. Padahal, pikiran liar (negatif), meskipun seakan rasionalis dan berdasarkan fakta-fakta yang ada, akan cenderung memprovokasi lahirnya perasaan negatife dan destruktif.

Oleh karena itu, biasakan untuk memonitor dan mengarahkan fikiran anda. Jangan biarkan diri anda dikendalikan oleh fikiran negatife. Bila yang masuk daalm fikiran anada tidak jelas positif dan negatifnya, gantilah denga sesuatu yang positif. Atau jadikanlah fikiran yang tidak jelas itu sesuatu yang tidak serius sehingga tidak mempengaruhi perasaan anda. Misalnya, jika anda memikirkan sesuatu tidak anda sukai, pikirkanlah tentang sesuatu yang anda sukai. Bila anda teringat sesuatu yang mengecewakan, gantilah dengan sesuatu kenangan yang membuat anda bangga. Bila anda sedang memikirkan hal yang melecehkan anda, pikirkanlah hal yang anda sukai.

Saya teringat nasihat guruku dari Ponpes Wah-oem,,, beliau bercerita ketika ada seseorang sebut saja si Fulan kehausan di padang pasir ada sebuah gelas yg berisi setengahnya,,, orang yg memandang dengan pandangan negatif, pesimis, mengeluh berkata"'ah sialan cuma segitu' bakalan mati gue"….. tapi orang yg memandang dengan ridho, optimis dan qona'ah ia berkata "syukur masih ada airnya alhamdulillah'" jadi fikiran kitalah yg dapat menjadikan hidup kita bahagia, lihatlah pelajaran dari kedua orang tersebut.

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Hidup Adalah

Hidup Adalah ....

Hidup adalah masalah pilihan
Memilih untuk bahagia atau sengsara.
Memilih untuk dipulihkan atu menyimpan kepahitan
Memilih untuk mengampuni atau mendendam.

Hidup adalah masalah pilihan.
Kebahagiaan semu bisa anda dapatkan, yang sejati tak jauh dari jangkauan.
Cinta kasih juga bisa anda miliki,namun dendam dan amarah juga bisa anda alami.
Persahabatan nan indah bukan impian, pengkhianatn mungkin anda dapati.

Hidup adalah masalah pilihan.
Mengenai bagaimana anda menjalani hidup.
Mengenai anda menghabiskan seluruh waqtu.
Mengenai bagaimana anda mencapai impian.
Dan mengenai bagaimana anda memandang kehidupan.tak dapat ditebak, dan tak dapat diselami.

Ada yang menganggap kehidupan sebagai medan peperangan. dimana ia harus berjuang tanpa henti.
Sementara yang lain menganggap kehidupan sebagai kutukan dari Yang Maha Kuasa.
Hidup tak lagi berarti bagi dirinya, ratap tak pernah jauh dari mulutnya.
Air mata mengalir siang dan malam, sebab hanyalah duka dan nestapa yang ada.

Namun.....
Orang yang berbahagia menganggap kehidupan sebagai sautu emas yang mulia.
Harta nan sangat berharga.
Anugerah Ilahi yang wajib disyukuri.

Dijalaninya hidup dengan asa dan impian.
Berjalan dalam jalan Sang Pencipta.
Berserah semuanya. melangkah setapak demi setapak.
Sampai didapatinya mahkota kemuliaannya.

Hidup adalah masalah pilihan. yang manakah yang anda pilih ?
Tanyalah pada diri sendiri Dan jalanilah hidup anda......


BACA SELENGKAPNYA>>>>

Melawan Diri Sendiri


Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain.
Namun, kemenangan atas diri sendiri.

Berpacu di jalur keberhasilan diri adalah pertandingan untuk mengalahkan rasa ketakutan,keengganan, keangkuhan, dan setiap keraguan yang menambat diri di setiap kali kita akan start.

Jerih payah untuk mengalahkan orang lain sama sekali tak berguna. Motivasi tak semestinya lahir dari rasa iri, dengki, atau dendam.

Keberhasialn sejati memberikan kebahagiaan yang seajati, yang tak mungkin diraih dengan niat yang ternoda.Pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari lain, akan tertinnggal kaena sibuk mengintip laju lawan-lawannya. Pelari yang berlari untuk memecahkan recordnya sendiri tak peduli apakah pelari lain akan menyusulnya atau tidak.

Tak peduli dimana dan siapa lawan-lawannya. Ia mencurahkan seluruh perhatian pada perbaikan catatan waktunya sendiri.Ia bertanding dengan dirinya sendiri, bukan melawan orang lain. kerenanya, ia tak perlu bermain curang. Keinginan untuk mengalahkan orang lain adalah awal kekalahan diri sendiri.Semoga bermanfaat... ^_^

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Thursday, 9 June 2011

Pesantren

Pesantren ditinjau dari sejarahnya, telah ada sejak zaman dahulu kala sebagai sarana pendidikan khususnya ilmu agama......................

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Monday, 17 May 2010

Makna Kata "Santri"

KotaSantri.com : Hampir seluruh masyarakat di kawasan nusantara ini tak asing lagi mendengar kata santri dalam benak mereka. Umumnya kata santri diidentikkan bagi seseorang yang tinggal di pondok pesantren yang kesehariannya mengkaji kitab-kitab salafi atau kitab kuning, dengan tubuh dibungkus sarung, peci, serta pakaian koko menjadi pelengkap atau menambah ciri khas tersendiri bagi mereka.

Asal-usul kata santri sendiri menurut Nur Kholis Majid sekurang-kurangnya ada 2 pendapat yang dapat di jadikan bahan acuhan. Pertama, berasal dari bahasa sangsekerta, yaitu "sastri", yang berarti orang yang melek huruf. Kedua, berasal dari bahasa jawa, yaitu "cantrik", yang berarti seseorang yang mengikuti kiai di mana pun ia pergi dan menetap untuk menguasai suatu keahlian tersendiri.

Berbeda menurut Dr. KH. MA. Sahal Mahfud yang justru kata santri dijadikan menjadi bahasa Arab, yaitu dari kata "santaro", yang mempunyai jama' (plural) sanaatiir (beberapa santri). Di balik kata santri tersebut yang mempunyai 4 huruf arab (sin, nun, ta', ra'), KH. Abdullah Dimyathy (alm) dari Pandegelang - Banten, mengimplementasikan kata santri sesuai dengan fungsi manusia. Adapun 4 huruf tersebut yaitu :

Sin. Yang artinya "satrul al aurah" (menutup aurat) sebagaimana selayaknya kaum santri yang mempunyai ciri khas dengan sarung, peci, pakaian koko, dan sandal ala kadarnya sudah barang tentu bisa masuk dalam golongan huruf sin ini, yaitu menutup aurat. Namun pengertian menutup aurat di sini mempunyai 2 pengertian yang keduanya saling ta'aluq atau berhubungan. Yaitu menutup aurat secara tampak oleh mata (dhahiri) dan yang tersirat atau tidak tampak (bathini).

Menutup aurat secara dhahiri gambarannya susuai dengan gambaran yang telah ada menurut syari'at Islam. Mulai dari pusar sampai lutut bagi pria dan seluruh tubuh kecuali tangan dan wajah bagi wanita. Gambaran tersebut merupakan gambaran yang sudah tersurat atau aturan-aturan yang sudah jelas dalam syari'at. Namun satu sisi yang kaitannya makna yang tersirat (bathini) terlebih dahulu kita harus mengetahui apa sebenarnya tujuan dari perintah menutup aurat.

Manusia sebagai mahluk yang mulia yang diberikan nilai lebih oleh Allah berupa akal menjadikan posisi manusia sebagai mahluk yang sempurna dibandingkan yang lain. Dengan akal tersebutlah akan terbentuk suatu custom atau habitual yang tentu akan dibarengi dengan budi dan naluri, yang nantinya manusia akan mempunyai rasa malu jikalau dalam perjalanannya tidak sesuai dengan riel–riel yang telah di tentukan oleh agama dan habitual action atau hukum adab setempat.

Yang kaitannya dengan hal ini, tujuan utama manusia menutup aurat tak lain adalah menutupi kemaluan yang dianggap fital yang berharga. Andaikata manusia sudah tidak dapat lagi menutup kemaluannya yang fital dan berharga itu, berarti sudah dapat ditanyakan kemanusiaannya antara manusia dan mahluk yang lain semisal hewan.

Hal yang terpenting di sini adalah bagaimana manusia menutupi dan mempunya rasa malu dalam hal sifat dan perilaku secara dhahiri atau bathini. Sebagimana disinggung dalam salah satu hadits : "Alhaya' minal iman", malu sebagian dari iman. Tentunya hal ini sudah jelas betapa besar pengaruhnya haya' atau malu dalam kacamata religius (agama) maupun sosial kemasyarakatan.

Nun. Yang berarti "na'ibul ulama" (wakil dari ulama). Dalam koridor ajaran Islam dikatakan dalam suatu hadits bahwa : "al ulama warasul ambiya' (ulama adalah pewaris nabi). Rasul adalah pemimpin dari ummat, begitu juga ulama. Peran dan fungsi ulama dalam masyarakat sama halnya dengan rasul, sebagai pengayom atau pelayan ummat dalam segala dimensi. Tentunya di harapakan seorang ulama mempunyai kepekaan-kepekaan sosial yang tahu atas problematika dan perkembangan serta tuntutan zaman akibat arus globalisasi dan modernisasi, serta dapat menyelesaikannya dengan arif dan bijak atas apa yang terjadi dalam masyarakatnya.

Kaitannya dengan na'ibul ulama, seorang santri di tuntut mampu aktif, merespon, sekaligus mengikuti perkembangan masyarakat yang diaktualisasikan dalam bentuk sikap dan perilaku yang bijak. Minimal dalam masyarakat kecil yang ada dalam pesantren. Sebagaimana yang kita tahu, pesantren merupakan sub-kultur dari masyarakat yang majemuk. Dan dengan didukung potensi yang dimiliki kaum santri itulah yang berfungsi sebagai modal dasar untuk memberikan suatu perubahan yang positif sesuai dengan yang di harapkan Islam.

Ta'. Yang artinya "tarku al ma'shi" (meninggalkan kemaksiatan). Dengan dasar yang dimiliki kaum santri, khususnya dalam mempelajari syari'at, kaum santri diharapkan mampu memegang prinsip sekaligus konsis terhadap pendirian dan nilai-nilai ajaran Islam serta hukum adab yang berlaku di masyarakatnya selagi tidak keluar dari jalur syari'at.

Kaitannya hal tersebut yaitu seberapa jauh kaum santri mengaplikasikan apa yang telah mereka dapatkan dan sejauh mana pula ia memegang hubungan hablum minallah dan hablum minannas, hubungan horizontal dan vertikal dengan sang khaliq dan sosial masyarakat. Karena tarku al ma'shi tidak hanya mencakup pelanggaran-pelanggaran hukum yang telah ditetapkanNya, tetapi juga hubungan sosial dengan sesama mahluk, baik manusia ataupun yang lain.

Ra'. Yang artinya "raisul ummah" (pemimpin ummat). Manusia selain diberi kehormatan oleh Allah sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding yang lain. Manusia juga diangkat sebagai khalifatullah di atas bumi ini. Sebagaimana diterangkan dalam firmanNya "inni ja'ulun fil ardhi khalifah" (QS. Al-Baqarah : 30), yang artinya "Sesungguhnya aku ciptakan di muka bumi ini seorang pemimpin."

Kemuliaan manusia itu ditandai dengan pemberianNya yang sangat mempunyai makna untuk menguasai dan mengatur apa saja di alam ini, khususnya ummat manusia. Selain itu pula peranan khalifah mempunyai fungsi ganda. Pertama, ibadatullah (beribadah kepada allah) baik secara individual maupun sosial, dimana sebagai mahluk sosial dalam komunitas berbangsa, ummat Islam juga dituntut memberikan manfaat kepada orang lain dalam kerangka ibadah sosial.

Kedua, 'imaratul ardhi, yaitu membangun bumi dalam arti mengelola, mengembangkan, dan melestarikan semua yang ada. Jika hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia itu hukumnya wajib. Maka melestarikan, mengembangkan, serta mengelola pun hukumnya wajib. Sebagaimana di jelaskan dalam salah satu kaidah fiqih; "ma la yatimu bi hi wajib fahuwa wajibun", sesuatu yang menjadikan kewajiban maka hukumnya pun wajib.

Gambaran di atas merupakan suatu peran serta tanggung jawab seorang santri, dalam hal pengembangan.   Di situlah diperlukan suatu mentalitas religius serta totalitas kesandaran, karena kaum santrilah yang dapat dijadikan harapan dalam mengembalikan konsep-konsep ajaran Islam dan di sini muncullah beberapa pertanyaan. Bagaimana keadaan dan perkembangan kita sebagai seorang santri? Sudah sesuaikah seperti gambaran di atas?Dan layakkah kita disebut sebagai santri? Dengan merubah diri kita dululah, maka kita akan dapat menghasilkan perubahan.
Bilik @ KotaSantri.com

BACA SELENGKAPNYA>>>>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...