Showing posts with label Bahasa Arab. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Arab. Show all posts

Wednesday, 13 August 2014

Fi'il Amr Satu Huruf (أفعال الأمربحرف واحد)

أفعال الأمر التي جاءت على حرف واحد
Ada 20 Fi'il Amar yang hanya menggunakan satu huruf :

عشرون فعل أمر جاءت على حرف واحد, وكلها مكسورة إلا:(رَ) من رَأَى يَرَى ووَرَى يَري؛ فإنه مفتوح[ذكره العلامة أحمد تيمور باشا(ت1348هـ) في المختارات].
وهي:
1/(إِ
) من وَأَى يَئِي وَأْيًا, والوأي: الوعد.
2/(تِ
) من أَتَى يَأْتِي أَتْيًا وأُتِيًّا وإِتِيًّا وإِتْيَانًا وإِتْيَانَةً ومَأْتَاةً؛ أي: جئته, وبعض العرب تقول في الأمر:(ائت), وأكثر الناس يأمرون بـ(ائت)لا(تِ)!.
3/(ثِ
) من وَثَى يَثي؛ أي: وَشَى به عند السلطان.
4/(جِ
) من وَجَى يَجي؛ أي قطع, وأما: الوَجا فهو الحفا.
5/(حِ
) من وَحَى يَحي وَحْيًا, والوحي: الإشارة والكتابة والكلام.
6/(خِ
) وَخَى يَخِي وَخْيًا؛ أي: قصد.
7/(دِ
) من وَدَى يَدِي وَدْيًا؛ أي: دفع الدية.
8, 9/(رَ
) أ- من رَأَى يَرَى الهلالَ رُوْيةً ورَأْيًا ورَاءَةً.
ب- ومن وَرَى يَرِي القيحُ جوفَه وَرْيًا؛ أي: أفسده.
10/(س
) من وَسَى يَسي زيدٌ رأسَ عمرو وَسْيًا؛ أي حلقه.
11/(شِ
) من وَشَى يَشِي وَشْيًا, والوشي: نقش الثوب.
12/(صِ
) من وَصَى يَصِي الشيءَ بالشيء وَصْيًا؛ أي وصله.
13/(عِ
) من وَعَى يَعِي وَعْيًا؛ أي: حفظ وجمع.
14/(فِ
) من وَفَى يَفِي وَفَاءً؛ بمعنى الوفاء العهد.
15/(قِ
) من وَقَى يَقِي وَقْيًا ووِقَايَةً ووَاقِيَةً, بمعنى الحفظ, واو الوقاية مثلثة.
16/(كِ
) من وَكَى يَكِي القِرْبةَ, والوكاء: رباط القربة وغيرها.
17/(لِ
) من وَلَى يَلِي ولايةً, والولاية: الإمارة.
18/(مِ
) وَمَى يَمِي وَمْيًا؛ أشار.
19/(نِ
) وَنَى يَنِي وَنْيًا ووِناءً, أي: تعب.
20/(هِـ
) وَهَى يَهِي وَهْيًا؛ أي: ضعف.

لجام الأقلام" لأبي تراب الظاهري
 

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Friday, 8 August 2014

Apa Itu Polyglot ?

Polyglot menurut kamus ini mempunyai arti :

adjective

  1. having a command of many languages
  2. written in, composed of, or containing many languages

noun

  1. a person with a command of many languages
  2. a book, esp a Bible, containing several versions of the same text written in various languages
  3. a mixture or confusion of languages 

Arti sederhana dari polyglot adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan banyak bahasa dan ia menguasai dan mampu berkomunikasi menggunakannya. Banyak contoh orang yang mampu menguasai banyak bahasa dan secara natural sebenarnya manusia mampu menuasai berbagai bahasa itu, seseorang yang sangat antusias dan senang mengusai banyak bahasa bahkan menjadikannya sebagai hobi bisa disebut hyperpolyglot. Contohnya seorang pemuda Amerika Tim Doner yang menguasai lebih dari 20 bahasa pada umur belasan tahun, dari Indonesia juga ada Gayatri Wailissa yang menguasai belasan bahasa pada usia remaja. Saksikan video mereka dibawah ini :






BACA SELENGKAPNYA>>>>

Sunday, 4 March 2012

Pentingkah Belajar Bahasa Arab ?

Bahasa Arab adalah bahasa yang dipilih Allah sebagai bahasa Al-Quran yang diturunkan kepada manusia sebagai pedoman hidup dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman, bahasa Arab adalah bahasa wahyu, Al-Qur’an menyebutkan bahasa Arab sebagai bahasa wahyu sebanyak 11 kali (QS. Az-Zukhruf: 3, Yusuf: 2, Fushshilat: 3 & 44, As-Syura: 7, Al-Ahqaf: 12, al-Ra’d: 37, An-Nahl: 103, Taha: 113, As-Syu’ara: 192-195 dan Az-Zumar: 27-28) di antara firman tersebut adalah: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (2) “Sesungguhnya Kami turunkan Al-Quran dalam bahasa Arab agar kamu mengerti”. (QS. Yusuf 2).

Al-Quran adalah sumber rujukan umat Islam di dunia dalam mengambil hukum dan tata cara peribadatan mereka, ibadah kepada Allah, Tuhan seluruh alam semesta adalah hakikat penciptaan manusia oleh karena itu ibadah sangatlah penting dan hal yang paling pokok untuk diketahui oleh setiap orang. Peran Bahasa Arab tidak bisa dilepaskan dalam pengambilan hukum ini, karena Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan bahasa rasul-Nya yang keduanya (Al-Quran dan Al-Hadits) adalah sumber pokok bagi umat islam. Bahasa Arab selain merupakan bahasa Al-Qur’an (Firman Allah atau kitab pedoman umat Islam) yang memiliki tata bahasa yang tinggi dan bermutu juga memiliki sastra yang sangat mengagumkan dan manusia tidak mampu untuk menandingi. Menurut Abdul Alim Ibrahim (1978) bahwa bahasa Arab merupakan bahasa orang Arab sekaligus juga merupakan bahasa Islam. (Azhar Arsad) Bahasa Arab dan Beberapa Metode Pengajarannya, (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003).

Bahasa lain termasuk bahasa Indonesia, tidak dapat diandalkan untuk memberikan kepastian arti yang tersurat dan tersirat yang terkandung dalam Al-Qur’an (Ash Shidiqi, 1975;2007) karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, maka kaidah-kaidah yang diperlukan dalam memahami Al-Qur’an bersendikan atas kaidah-kaidah bahasa Arab, memahami asas-asasnya, merupakan tata bahasanya dan mengetahui rahasia-rahasianya (Ash Shidqi, 1972;284). Dewasa ini semakin banyak umat Islam yang belum memahami betapa pentingnya bahasa Arab sehingga mereka acuh, tidak memperdulikan bahasa Arab dan enggan untuk mempelajarinya. Di samping itu sebagian besar umat Islam pada umumnya dan para remaja muslim pada khususnya menganggap bahwa mempelajari bahasa Arab itu sangat sulit dan rumit, padahal sebenarnya tidak sesulit apa yang dibayangkan jika mereka mau mempelajarinya. Bahasa Arab merupakan salah satu komponen dalam islam yang sangat penting, umat islam akan bodoh terhadap agama mereka dan akan timbul perselisihan diantara mereka jika mereka tidak menguasai bahasa Arab.

Imam Syafi’i mengatakan : ”Manusia menjadi buta agama, bodoh, dan selalu berselisih paham lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles”. (Siyaru A’lamin Nubala, Imam Adz-Zahabi 10/74) Itulah ungkapan Imam Syafi’i bagi umat, agar kita jangan memarginalkan bahasa kebanggaan umat Islam. Seandainya sang Imam menyaksikan sikap umat sekarang ini terhadap bahasa Arab, tentulah keprihatinan beliau akan semakin memuncak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Dibenci seseorang berbicara dengan bahasa selain bahasa Arab karena bahasa Arab merupakan syiar Islam dan kaum muslimin. Bahasa merupakan syiar terbesar umat-umat, karena dengan bahasa dapat diketahui ciri khas masing-masing umat.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim hlm. 204). Asy-Syafi’iy berkata sebagaimana diriwayatkan As-Silafi dengan sanadnya sampai kepada Muhammad bin Abdullah bin Al Hakam, beliau berkata: “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-syafi’iy berkata: “Allah menamakan orang-orang yang mencari karunia Allah melalui jual beli (berdagang) dengan nama tujjar (tujjar dalam bahasa Arab artinya para pedagang-pent), kemudian Rosulullah juga menamakan mereka dengan penamaan yang Allah telah berikan, yaitu (tujjar) dengan bahasa arab. Sedangkan “samasiroh” adalah penamaan dengan bahasa `ajam (selain arab). Maka kami tidak menyukai seseorang yang mengerti bahasa arab menamai para pedagang kecuali dengan nama tujjar dan janganlah orang tersebut berbahasa Arab lalu dia menamakan sesuatu (apapun juga-pent) dengan bahasa `ajam. Hal ini karena bahasa Arab adalah bahasa yang telah dipilih oleh Allah, sehingga Allah menurunkan kitab-Nya yang dengan bahasa Arab dan menjadikan bahasa Arab merupakan bahasa penutup para Nabi, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 


Oleh karena itu, kami katakan seyogyanya setiap orang yang mampu belajar bahasa Arab mempelajarinya, karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling pantas dicintai tanpa harus melarang seseorang berbicara dengan bahasa yang lain. Imam Syafi’iy membenci orang yang mampu berbahasa Arab namun dia tidak berbahasa Arab atau dia berbahasa Arab namun mencampurinya dengan bahasa `ajam.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim). Abu Bakar bin ‘Ali Syaibah meriwayatkan dalam Al Mushanaf:“Dari Umar bin Khattab, beliau berkata: Tidaklah seorang belajar bahasa Persia kecuali menipu, tidaklah seseorang menipu kecuali berkurang kehormatannya. Dan Atho’ (seorang tabi’in) berkata: Janganlah kamu belajar bahasa-bahasa ajam dan janganlah karnu masuk gereja – gereja mereka karena sesungguhnya Allah menimpakan kemurkaan-Nya kepada mereka, (Iqtidho Shirotil Mustaqim). Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad berkata: “Tanda keimanan pada orang ‘ajam (non arab) adalah cintanya terhadap bahasa arab.” Dan adapun membiasakan berkomunikasi dengan bahasa selain Arab, yang mana bahasa Arab merupakan syi’ar Islam dan bahasa Al-Qur’an, sehingga bahasa selain arab menjadi kebiasaan bagi penduduk suatu daerah, keluarga, seseorang dengan sahabatnya, para pedagang atau para pejabat atau bagi para karyawan atau para ahli fikih, maka tidak disangsikan lagi hal ini dibenci. Karena sesungguhnya hal itu termasuk tasyabuh (menyerupai) dengan orang `ajam dan itu hukumnya makruh.”(Iqtidho Shirotil Mustaqim). 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bahasa arab itu termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa arab. Dan tidaklah kewajiban itu sempurna kecuali dengannya (mempalajari bahasa arab), maka ia (mempelajari bahasa arab) menjadi wajib. Mempelajari bahasa arab, diantaranya ada yang fardhu ‘ain, dan adakalanya fardhu kifayah.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Sunday, 4 September 2011

Urgensi Belajar Bahasa Arab

Bahasa Arab adalah bahasa yang dipilih Allah sebagai bahasa Al-Quran yang diturunkan kepada manusia sebagai pedoman hidup dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman, bahasa Arab adalah bahasa wahyu, Al-Qur’an menyebutkan bahasa Arab sebagai bahasa wahyu sebanyak 11 kali (QS. Az-Zukhruf: 3, Yusuf: 2, Fushshilat: 3 & 44, As-Syura: 7, Al-Ahqaf: 12, al-Ra’d: 37, An-Nahl: 103, Taha: 113, As-Syu’ara: 192-195 dan Az-Zumar: 27-28) di antara firman tersebut adalah:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (2)
“Sesungguhnya Kami turunkan Al-Quran dalam bahasa Arab agar kamu mengerti”. (QS. Yusuf 2).

Al-Quran adalah sumber rujukan umat Islam di dunia dalam mengambil hukum dan tata cara peribadatan mereka, ibadah kepada Allah, Tuhan seluruh alam semesta adalah hakikat penciptaan manusia oleh karena itu ibadah sangatlah penting dan hal yang paling pokok untuk diketahui oleh setiap orang. Peran Bahasa Arab tidak bisa dilepaskan dalam pengambilan hukum ini, karena Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan bahasa rasul-Nya yang keduanya (Al-Quran dan Al-Hadits) adalah sumber pokok bagi umat islam.

Bahasa Arab selain merupakan bahasa Al-Qur’an (Firman Allah atau kitab pedoman umat Islam) yang memiliki tata bahasa yang tinggi dan bermutu juga memiliki sastra yang sangat mengagumkan dan manusia tidak mampu untuk menandingi. Menurut Abdul Alim Ibrahim (1978) bahwa bahasa Arab merupakan bahasa orang Arab sekaligus juga merupakan bahasa Islam. (Azhar Arsad) Bahasa Arab dan Beberapa Metode Pengajarannya, (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003). Bahasa lain termasuk bahasa Indonesia, tidak dapat diandalkan untuk memberikan kepastian arti yang tersurat dan tersirat yang terkandung dalam Al-Qur’an (Ash Shidiqi, 1975;2007) karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, maka kaidah-kaidah yang diperlukan dalam memahami Al-Qur’an bersendikan atas kaidah-kaidah bahasa Arab, memahami asas-asasnya, merupakan tata bahasanya dan mengetahui rahasia-rahasianya (Ash Shidqi, 1972;284).

Dewasa ini semakin banyak umat Islam yang belum memahami betapa pentingnya bahasa Arab sehingga mereka acuh, tidak memperdulikan bahasa Arab dan enggan untuk mempelajarinya. Di samping itu sebagian besar umat Islam pada umumnya dan para remaja muslim pada khususnya menganggap bahwa mempelajari bahasa Arab itu sangat sulit dan rumit, padahal sebenarnya tidak sesulit apa yang dibayangkan jika mereka mau mempelajarinya. Bahasa Arab merupakan salah satu komponen dalam islam yang sangat penting, umat islam akan bodoh terhadap agama mereka dan akan timbul perselisihan diantara mereka jika mereka tidak menguasai bahasa Arab. Imam Syafi’i mengatakan : ”Manusia menjadi buta agama, bodoh, dan selalu berselisih paham lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles”. (Siyaru A’lamin Nubala, Imam Adz-Zahabi 10/74)

Itulah ungkapan Imam Syafi’i bagi umat, agar kita jangan memarginalkan bahasa kebanggaan umat Islam. Seandainya sang Imam menyaksikan sikap umat sekarang ini terhadap bahasa Arab, tentulah keprihatinan beliau akan semakin memuncak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Dibenci seseorang berbicara dengan bahasa selain bahasa Arab karena bahasa Arab merupakan syiar Islam dan kaum muslimin. Bahasa merupakan syiar terbesar umat-umat, karena dengan bahasa dapat diketahui ciri khas masing-masing umat.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim hlm. 204).


BACA SELENGKAPNYA>>>>

Sunday, 17 July 2011

Mengapa Anda Belajar Bahasa Arab?

Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan secara luas di planet ini. Bahasa Arab merupakan bahasa utama dari 22 negara, digunakan oleh lebih dari 250 juta orang. Bahasa ini juga merupakan bahasa resmi pada negara-negara yang mayoritas Muslim karena dianggap sebagai bahasa spiritual Islam - salah satu agama-agama besar dunia (kita membicarakan tentang lebih dari 2 miliar orang!). Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tetap di organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Alasan lain yaitu bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua yang hidup di dunia, dan merupakan bahasa asli dari banyak bahasa, bahkan ada teori yang menyatakan bahwa "bahasa Arab merupakan asal dari bahasa-bahasa" dan mereka yang mengadopsi teori ini berlandaskan pada kenyataan bahwa orang Arab dapat melafalkan suara apapun dalam bahasa manapun di dunia dengan mudah, di lain pihak banyak orang-orang bukan-Arab yang kesulitan mengucapkan beberapa huruf Arab yang tidak terdapat dalam bahasa asli mereka (contohnya huruf dhad tidak digunakan dalam bahasa manapun di dunia, dan bahasa Arab sering disebut sebagai bahasa dhad).

Memang sepantasnya seorang muslim mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.”(Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Syaikhul Islam Berkata: “Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah:

مَا لاَ يَتِمٌّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.”

Namun disana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah. Dan hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Umar bin Yazid, beliau berkata: Umar bin Khattab menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya) “…Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan I’roblah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab.”
Dan pada riwayat lain, Beliau (Umar bin Khattab) berkata: “Pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian, dan belajarlah faroidh (ilmu waris) karena sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Saturday, 18 June 2011

Otak Kanan Tak Kenali Huruf Arab


Metrogaya - Salah satu fungsi otak kanan manusia adalah untuk menangkap obyek visual, termasuk huruf. Namun, khusus untuk tulisan Arab, otak kanan tak digunakan untuk mengenali dan membaca huruf akibat kompleksnya huruf Arab.

Karena itu, untuk membaca tulisan Arab dibutuhkan kemampuan lebih tinggi dibandingkan membaca tulisan dalam bahasa Inggris. Temuan itu didasarkan atas studi berkelanjutan Departemen Psikologi bersama Pusat Penelitian Otak untuk Studi Ketidakmampuan Belajar Edmond J Safra di Universitas Haifa, Israel, selama lebih dari 10 tahun terakhir.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Neuropsychology itu menunjukkan, kemampuan membaca tulisan Arab lebih berat dibandingkan tulisan bahasa lain. Untuk membandingkan kompleksitas tulisan Arab, Prof Zohar Eviatar dan Raphiq Ibrahim membandingkan kecepatan dan akurasi membaca sejumlah anak dan orang dewasa yang bahasa ibunya bahasa Arab, bahasa Ibrani (sebagai bahasa yang mirip dengan Arab), dan bahasa Inggris.

Mereka juga menguji kecepatan dan akurasi anak-anak dengan bahasa ibu bahasa Arab untuk mengeja huruf dalam tulisan Arab, Ibrani, dan Inggris. Hasilnya, otak kanan yang biasa digunakan dalam proses membaca dalam bahasa Inggris dan Ibrani ternyata tak digunakan dalam mengenali huruf tulisan Arab.(dnx/mmagazine)

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Pengaruh Bahasa Arab Pada Bahasa Indonesia

Penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan di tetapkan pada Kongres Pemuda tahun 1982, tercantum dalam sumpah pemuda,dan sebagai bahasa nasional dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, fasal 36 Bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa Indonesia lima puluh empat tahun yang lalu di angkat dari Bahasa Melayu, salah satu bahasa daerah yang di angkat dari 250 bahasa daerah yang hidup di Indonesia.

Bahasa Indonesia juga menerima sumbangan yang tidak kecil dari bahasa asing, terutama bahasa yang bersifat Internasional, proses peminjaman bahasa asing telah terjadi semenjak bahasa Melayu. Dalam Bahas Indonesia dewasa ini kita dapati sejumlah kosakata yang berasal dari bahasa Sansekerta, Arab, Persi, Tamil, Portugis, cina, Inggris, Belanda, Jepang dan lain sebagainya. Dalam menunaikan fungsi sebagai bahasa ilmu pengetahuan atau bahasa ilmiah, bahasa Indonesia harus dapat memberi informasi yang tepat, dalam arti bebas dari sifat samar dan tidak menimbulkan keragu-raguan pada pemakai bahasa, sesuai dengan sifat-sifat kodrati bahasa ilmiah.

Mengenai ikhtiar untuk memperlengkapi kata-kata yang diperlukan di dalam dunia ilmu pengetahuan dan kebudayaan maka Kongres Bahasa Indonesia menganjurkan, istilah-istilah yang telah biasa dipakai saat ini diakui, istilah-istilah yang yang disiarkan oleh Komisi Istilah supaya disaring dengan jalan berpegang pada pengertian keseluruhannya dan tidak hanya berupa penterjemahan kata-kata bagiannya, semua istilah internaional dalam lapangan ilmiah dan kebudayaan diterima dengan ketentuan diselaraskan dengan lisan Indonesia, dan untuk memperkaya perbrndaharaan kata hendaklah terutama diambil kata-kata dari bahasa daerah dan bahasa serumpun.


Sebelumnya telah disebutkan bahwa bahasa Indonesia itu diangkat dari bahasa Melayu. Peninggalan paling tua dari bahasa ini adalah berupa prasasti dari abad ke-7, ditulis dengan huruf pallawa dan banyak bercampur dengan bahasa Sansekerta. Bahasa Melayu kemudian menyebar ke seluruh daerah jajahan Sriwijaya. Bahasa Melayu menjadi bahasa pelajaran dan perniagaan karena merupakan bahasa yang digunakan oleh pedagang antar kepulauan.


Bersamaan dengan masuknya agama islam kepulauan Nusantara, maka masuk pula pengaruh bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu. Prasasti dalam bahasa melayu yang telah menggunakan kata-kata Arab berasal dari abad ke 14 Masehi, berupa batu nisan dari makam putri sultan Malik Az-Zahir ( Sultan Pasai ) yang terdapat di Minye Tujuh (Aceh ). Batu nisan ini memamng berasal dari masa peralihan gama di Sumatra, hurufnya bukan huruf arab tapi masih memakai huruf Sumatra kuno (perkembangan dari huruf pallawa). Pengaruh bahasa Arab pada bahasa melayu itu melalui bahasa tulisan, ialah dari kitabkitab agama terutama kitab-kitab fiqih, Buku-buku kesusastraan Ara atau Islam serta melalui bahasa alim ulama.
Bahasa Arab termasuk bahasa klasik yang memegang peranan dalam peradaban sebagimana yang dikatakan oleh Edward Sapir:
“Er zijn welgeteld vijf talen, die een oppermachtige betekenis hebben gehad als draagsters van besechaving.het zijn: klassiek Chinees sanskrit, arabisch, grieken latijn”
Dengan masuknya agama Islam ke Eropa, pada zaman dinasti umayah di spanyol, maka mulailah bahasa Arab mempengaruhi bahasa-bahasa Eropa. Misalnya dal;am bahasa spanyol terdapat sejumlah kata-kata dari bahasa arab antara lain: fonda dari funduk artinya panggilan atau pabrik, el arrozi dari alruzz artinya nasi.
Kata-kata arab yang masuk ke indonesia dalam jumlah besar, dan di gunakan dalam dalam semua kehidupan. Asimilasi antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab sudah berlangsung empat atau lima abad ketika bahasa indonesia masih merupakan bahasa melayu terutama kata-kata yang mengekdpresikan perasaan ke-Tuhanan rasa bergantung kepada Tuhan Yang Mahaesa. Pemakaian kata yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan seperti Allah, insya Allah, astaga, hari kiyamat, takdir, khutbah ruhulkhudus dan masih banyak lagi.


Dalam bahasa Arab kata-kata dibagi menjadi tiga kategori
1. ism (kata benda)
2. fi’il (kata kerja)
3. harf (partikel, termasuk didalam kata depan, kata tambah, kata seru dan kata penghubung).
Pada umumnya kata yang dipinjam dalam bahasa Indonesia adalah kata benda. Menurut Arnold, kata-kata Arab yang dalam bahasa Eropa pun kebanyakan berupa kata benda. Kata kerja yang masuk dalam bahasa Indonesia sangat sedikit, yaitu kata-kata: yakni, kutip, nukil, hafal, batal.


Adapun katabenda yang kita pinjam itu berasal dari berbagai bentu. Yang akan dikemkakan dibawah ini hanyalah bentuk frekkwensinya:
1. Bentuk masdar (infinitif): musyawarah, mufakat,itikad,ikrar dll.
2. Bentuk participum activum: akil, balig, hamil, mukmin, hadir, mungkin dll.
3. Bentuk participun passivum: masgul,mashurmakbul, musabab,makhluk dll.
4. kata benda yang pembentukannya bukan karena tarrif; kerabat, amal, hal, martabat,syak.
Selain itu perlu diketengahkan juga bahwa kata-kata pinjaman itu ada yang mengalami perubahan-perubahan semantik (yang menyangkut arti,makna) atau perubahan fonologis(yang menyangkut bunyi atau ucapan kata-kata yang mengalami perubahan semantik adalah:


Kata: Bahasa Arab Bahasa Indonesia
Lazim   Harus biasa
Masgul sibuk (bahasa jawa) kecewa
Amal perbuatan perbuatan baik (inbonam partem)
Nasib untung untung buruk
Kalimat perkataan kalimat (susunan kalimat)
Kuliah fakultas mata kuliah
Tabib dokter dukun

Kata-kata yang mengalami perubahan fonologis disebabkan beberapa peristiwa:

1. dengan menanggalkan bunyi tekak (hamza) yang terdapat pada akhir kata; misalnya: bina, rela, ulama, wudu, ambia, dan latin sebagainya.
2. Disesuaikan dengan daerah artikulasi atau hukum.
Kelompok konsonan kata Indonesia, misalnya:
Arab Indonesia
Mumkin mungkin
Mutalah mentelaah
Minbar mimbar
Jumlah jumblah (sering-sering)
Masyur mashur


Perubahan bunyi karena kekeliruan ucapan sewaktu ditulis dalam bahasa melayu, misalnya:
Arab Indonesia
Jadwal jadwal, judul
Ta’aluk takluk


Atau karena huruf yang tertinggal, misalnya:
Arab                 Indonesia
Khalik               khalayak
Laik                  layak
Muwafakat        mufakat
Perlu ditambahkan disini ada sementara kata benda yang kemudian diberi berfungsi juga sebagai kata penghubung, kata-kata itu ialah: sebab,berkat,waktu, saat, dan hal. Kecuali bahasa Arab mengenal tiga macam kasus yaitu nominatif, akusatif dan genetif. Diantara tanda-tanda itu ada yang nampak pada kata pindah jaman atau ungkapan, misalnya: hadirin,(akusatif/genetif), ya rabba ‘l alamin(rabba=akusatif), amma ba’du( nominatif) kasus akusatif terdapat juga pada nama-nama orang misalnya: wardan, hudan, burdan, jam’am, jaldan dan lain sebagainya.


Demikianlah beberapa permasalhan kata-kata Indonesia yang di pinjam dari bahasa arab. Bagi kita semua para pemekai bahasa ini, tidaklah ada kebutuhan untuk meneliti dan mengamati kata-kata tersebut, tetapi yang penting ialah bagaimana kita menggunakan kata-kata tersebut dengan setepat-tepatnya.

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Tuesday, 14 September 2010

URGENSI PENGETAHUAN BAHASA ARAB


Ada dua poin penting yang berkaitan dengan pentingnya mempelajari bahasa Arab, yaitu:

1. Sebagai sumber ilmu
2. Sebagai pemersatu ummat
A. Sumber Ilmu

Sepanjang sejarah, bahasa Arab merupakan bahasa yang memiliki cabang ilmu yang indah dan kekuatan sastra yang kokoh sehingga mudah dipahami.

Para ulama mengatakan bahwa seseorang sebelum dia membaca teks Arab dia sudah bisa
paham baik dia berbahasa Arab aktif maupun pasif. Berbeda dengan bahasa lain dimana seseorang harus membacanya terlebih dahulu baru kemudian dia bisa paham.1

Bahasa Arab merupakan sumber keilmuan terutama ilmu-ilmu keislaman, karena al-Qu’an, al-hadits, al-atsar serta penjelasan para ulama terdahulu menggunakan bahasa Arab. Kita tidak bisa memahaminya kecuali dengan bahasa Arab. Ini adalah bagian dari mukjizat al-Qur’an yaitu memiliki standar bahasa yang baku yaitu bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan sumber keilmuan karena terdapat beberapa hal sebagai berikut:

1. Sarana mencapai kemuliaan
Ilmu adalah kemuliaan dan tidak bisa diraih kecuali dengan bahasa. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberi kemuliaan pada bahasa Arab dengan dua yaitu:

a.Standar bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab.
Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa wahyu-Nya agar umat manusia bisa memahaminya dengan mudah. Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” 2

b.Memilih dan mengutus rasul-Nya dari orang Arab untuk seluruh alam. Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.” 3
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan orang Arab “asli” yang sangat fasih berbicara dengan menggunakan bahasa Arab.

Bahasa Arab merupakan bahasa yang mulia sehingga menjaga diri seseorang dari kebodohan dan perselisihan. al-Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Manusia tidaklah menjadi bodoh dan berselisih, kecuali ketika mereka meninggalkan bahasa Arab dan cenderung pada bahasa Aristoteles.” 4

Oleh karena itu, banyak orang-orang mulia dari kalangan ulama, pendapat-pendapat mereka dijadikan sebagai sumber rujukan dalam memahami al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah an-Nabawiyah. Mereka diantaranya yaitu:

a.Al-Imam Syafi’i rahimahullah
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hasan al-Ja’farani, dia berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang pun yang lebih fasih dan lebih alim dari Imam syafi’i. Jika dibacakan syai’r di hadapannya pasti beliau mengetahuinya, beliau adalah ibarat lautan ilmu.” 5

Dalam riwayat yang lain, dari Rabi’ah bin Sulaiman, dia berkata, “Saya mendengar Ibn Hisyam rahimahullah pengarang buku Maghazi berkata, “Imam Syafi’i adalah hujjah dan bahasa.” 6
b.Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

Ibrahim al-Harbi rahimahullah berkata, “Saya melihat Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah seakan-akan Allah mengumpulkan ilmu orang terdahulu dan terakhir untuknya.” 7

c.Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah
Abu Hayyan rahimahullah adalah guru para ahli Nahwu, ketika dia bertemu dengan Ibn Taimiyah rahimahullah, dia berkata, “Kedua mata saya belum pernah melihat orang seperti Ibn Taimiyah.” 8
Dengan demikian, para ulama mendapat kemuliaan baik disisi manusia maupun disisi Allah karena mereka menjadikan bahasa Arab sebagai sarana untuk memahami agama ini.

2. Sarana memahami agama
Bahasa arab merupakan sarana yang paling penting untuk memahami agama Islam. Hal ini karena al-Qur’an, al-hadits, al-atsar, tafsir, dan penjelasan para ulama sebagian besar menggunakan bahasa Arab. Untuk bisa memahaminya kita membutuhkan sarana yaitu bahasa Arab.

Oleh karena itu, sahabat yang mulia al-Faruq Umar bin khaththab radiallahu ‘anhu diriwayatkan telah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari radiallahu ‘anhu seraya berkata,
تعلموا العربية فإنها من دينكم……
“Belajarlah bahasa Arab karena sesungguhnya bahasa Arab itu bagian dari agama kalian.” 9

Dalam riwayat yang lain dari Umar bin Zaid berkata, “Umar bin Khaththab radiallahu ‘anhu menulis surat kepada abu Musa al-Asy’ari radiallahu’anhu, ‘pahamilah sunnah dan pahamilah bahasa arab.’ ” 10

Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mengarahkan penuntut ilmu hadits agar mempelajari bahasa dan Sastra arab. Beliau berkata, “Menurut pandangan saya, seorang penuntut ilmu yang mendalami ilmu hadits harus memperbanyak studi ilmu sastra dan bahasa Arab sehingga dia mampu menguasai fiqhul hadits dengan baik karena hadits adalah ucapan orang Arab (rasulullah) yang paling fasih.” 11
Keterangan di atas adalah wujud perhatian besar para ulama terhadap bahasa Arab yang merupakan sarana mereka dalam memahami agama Islam.

B. Pemersatu Ummat
Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa bahasa Arab bukanlah bahasa orang Arab semata, akan tetapi merupakan bahasa kaum muslimin di seluruh dunia yang dengannya kaum muslimin menyatu dalam beberapa aspek ibadah dan dengan tujuan ini pula Allah menurunkan al-Qur’an menggunakan bahasa bahasa Arab.

Jika bahasa Arab hanya menjadi bahasa orang (bangsa) Arab saja maka tidak mungkin Allah menurunkan al-Qur’an dengan bahasa Arab. Hal itu bertentangan dengan firman-firman-Nya, seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan mengenai “sumber ilmu”.

Dalam Islam, ada beberapa ibadah yang tidak bisa dikerjakan kecuali dengan bahasa arab, diantaranya sebagai berikut:

1.Shalat
Shalat tidak sah kecuali dengan bahasa arab, mulai dari panggilan untuk shalat (adzan dan iqamah), dan saat melakukan shalat yang diawali dengan takbiratul ihram, bacaan ayat-ayat al-Qur’an, dzikir-dzikir, dan salam, semua itu diucapkan dengan bahasa arab.
2. Dzikir-dzikir dan do’a-do’a
Dzikir dan do’a pada asalnya mengunakan bahasa Arab. Hal itu lebih utama, termasuk dalam dzikir adalah membaca al-Qur’an. Para ulama mengatakan diantara dzikir-dzkir yang paling utama adalah membaca al-Qur’an selain kalimat thayyibah (لا إله إلا الله).

Seseorang dikatakan telah membaca al-Qur’an jika dia membaca teks aslinya. Orang yang membaca terjemahannya tidaklah dikatakan membaca al-Qur’an, karena bisa jadi terjemahan itu keliru.
Walaupun dzikir dan do’a secara umum boleh menggunakan bahasa terjemahan (bahasa Ibu) bagi orang non-Arab, namun “tidak” di semua tempat dan waktu boleh berdzikir dan berdo’a menggunakan bahasa non-Arab.

C. Kesimpulan.
Urgensi bahasa Arab selain sebagai bahasa al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sebagai bahasa komunitas kaum muslimin di seluruh dunia. Apabila kita menengok sejarah perkembangan Islam maka tidak terlepas dari bahasa arab. Hal ini bisa kita lihat pada beberapa negara di Afrika yang sampai sekarang masih menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa ibu (bahasa sehari-hari). Wallahu a’lam
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Monday, 13 September 2010

Bahasa Arab Sumbang 40 % Bahasa Dunia

Medan ( Berita ) : Di bawah pengaruh dan perkembangan Islam, Bahasa Arab menyumbang 40-60 persen kosakata untuk berbagai bahasa di dunia hingga berpengaruh pada tata bahasa, ilmu nahwu dan kesusastraan.

Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Departemen Agama, Prof Dr Machasin, di Medan, Selasa [13/10] , mengatakan, Bahasa Arab mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan muslim di berbagai belahan dunia.

“Bahasa Arab mempengaruhi bahasa Persia, Turki, Urdu, Melayu, Hausa dan Sawaili. Artinya di bawah pengaruh Islam, kosakata Bahasa Arab banyak dipakai dalam berbagai bahasa di dunia,” katanya pada seminar internasional Bahasa Arab Dalam Perpektif Sosial Budaya.

Ia mengatakan, dewasa ini Bahasa Arab merupakan bahasa daerah sekitar 150 juta orang di Asia Barat dan Afrika Utara yang merupakan 22 negara yang menjadi anggota liga negara-negara Arab.
Bahasa Arab juga merupakan bahasa agama lebih dari satu miliar umat muslim di seluruh dunia, yang diucapkan dalam ibadah sehari-hari.

Bahasa ini juga merupakan bahasa hukum Islam yang mendominasi kehidupan semua muslim dan digunakan sebagai bahasa kebudayaan Islam yang diajarkan di ribuan sekolah diluar dunia Arab. “Dari Senegal sampai Filipina, Bahasa Arab dipakai sebagai bahasa pengajaran dan kesusastraan, pemikiran di bidang sejarah, etika hukum dan fiqih serta kajian kitab,” katanya.

Didukung dengan beberapa doktrin ajaran dalam Islam, Bahasa Arab terus mempengaruhi masyarakat muslim diberbagai tempat. Misalnya doktrin bahwa Al Quran harus ditulis dan dibaca dalam bahasa aslinya yakni Bahasa Arab.

Hal ini berbeda dengan kitab suci lain yang justru harus diterjemahkan ke berbagai bahasa tanpa menyertakan teks aslinya. Doktrin pendukung lainnya adalah berbagai ucapan ritual ibadah yang hanya dianggap sah jika dilakukan dalam Bahasa Arab.

Doktrin-doktrin seperti ini telah memacu motivasi masyarakat muslim untuk mempelajari dan menguasai Bahasa Arab sejak dini agar kelak menjadi muslim yang baik.

Pengaruhi Cara Berfikir Masyarakat Muslim
Bahasa Arab mempengaruhi cara berfikir dan bersikap masyarakat muslim di seluruh dunia karena bahasa sangat erat kaitannya dengan kegiatan berpikir masyarakat pengguna bahasa itu.
“Bahasa Arab dewasa ini sangat mempengaruhi cara berpikir dan cara bersikap masyarakat muslim di seluruh dunia. Hal ini terlihat dari kecenderungan masyarakat muslim untuk memahami segala sesuatu yang serba Islami dan Arabi,” kata Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Departemen Agama, Prof Dr Machasin, di Medan, Selasa.

Ia mengatakan, dalam konteks Indonesia, Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa asing tertua yang dikenal bangsa Indonesia sejak masuknya Islam kenusantara. Bahasa Arab dikenal dan dipelajari oleh bangsa Indonesia karena terkait dengan fungsi Bahasa Arab yakni sebagai bahasa agama.

Sebagai bahasa agama, Bahasa Arab telah memainkan peranan penting dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia yang religius. Berdasarkan realita tersebut, maka peranan Bahasa Arab dalam proses pengembangan sikap religius warga bangsa pada umumnya dan peserta didik di lingkungan satuan-satuan pendidikan, sangatlah besar.
Disisi lain, era globalisasi yang menjadikan dunia sebagai desa kecil, mau tidak mau memaksa warga dunia untuk melakukan interaksi sosial dan budaya secara intensif antar mereka. Atas dasar itu, perkembangan sosial budaya di suatu bangsa akan mudah diakses bahkan mempengaruhi warga dunia lainnya.

Sementara dalam konteks Bahasa Arab, perkembangan sosial budaya yang terjadi di negara-negara Arab pun akan mempengaruhi dunia secara positif atau negatif.
Misalnya, perkembangan situasi Timur Tengah yang demikian memanas akan mempengaruhi iklim ekonomi dan politik dunia.

Demikian juga dengan perkembangan pemikiran Islam garis keras di suatu negara juga akan mempengaruhi pemikiran dan pemahaman Islam di negara-negara Islam lain di dunia.
“Atas dasar itu, pemahaman Bahasa dan Budaya Arab, bagi Indonesia yang mayoritas beragama Islam menjadi penting dalam merespon perkembangan yang terjadi di Timur Tengah, baik di bidang ekonomi, politik, dan agama,” katanya.

Staf Pengajar Program Studi bahasa Arab, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara (USU), Drs Aminullah MA, mengatakan, peran Bahasa Arab sebagai bahasa agama sangat berpengaruh pada pola kehidupan Indonesia di kehidupannya sehari-hari.

“Sejak dahulu sampai sekarang, masyarakat muslim Indonesia terus berlomba-lomba mengusakan agar anaknya dapat menguasai Bahasa Arab sejak dini. Ini tentunya dengan harapan agar si anak dapat semakin menguasai Islam dengan baik,” katanya. ( dan )

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Perkembangan Bahasa Arab

Dalam sejarah perkembangan bahasa Arab, terdiri dari beberapa priode, antara lain :

1. Priode Jahiliyah. Priode ini munculnya nilai-nilai standarisari pembentukan bahasa arab fusha, dengan adanya beberapa kegiatan peting yang telah menjadi tradisi masyarakat Makah . Kegiatan tersebut berupa festifal syair-syair arab yang diadakan di pasar Ukaz, Majanah, Zul Majah. yang akhirnya mendorong tersiar dan meluasnya bahasa arab, yang pada akhirnya kegiatan tersebut dapat membentuk stsndarisasi bahasa arab fusha dan kesusasteraannya.

2. Periode Permulaan Islam. Turunnya Al – Quran dengan membawa kosa kata baru dengan jumlah yang sangat luar biasa banyaknya menjadikan bahasa Arab sebagai suatu bahasa yang telah sempurma baik dalam mufradat, makna, gramatikal dan ilmu –ilmu lainnya. Adanya perluasan wilayah-wilayah kekuasaan islam sampai berdirinya daulah umayah . Setelah berkembang kekuasaan Islam, maka orang-orang islam arab pindah ke negeri baru, sampai masa Khulafaa Al-Al-Rasyidiin

3. Priode bani Umayah. Terjadinya percampuran orang-orang arab dengan penduduk asli akibat adanya perluasan wilayah islam. Adanya upaya-upaya orang arab untuk menyebarkan bahasa arab ke wilayah melalui akspansi yang beradab. Melakukan arabisasi dalam berbagai kehidupan, sehingga penduduk asli mempelajari bahasa arab sebagai bahasa agama dan pergaulan.

4. Priode bani Abasiyah. Pemerintahan Abasiyas berkeyakinan bahwa kejayaan pemerintahannya dapat bertahan bila bergantung kepada kemajuan agama islam dan bahasa arab, kemajuan agama islam dipertahankan dengan cara melaksanakan kegiatan pembedahan Al-Quran terhadap cabang-cabang disiplin ilmu pengetahuan baik ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Bahasa Arab Badwi yang bersifat alamiah ini tetap dipertahankan dan dipandang sebagai bahasa yang bermutu tinggi dan murni yang harus dikuasai oleh putra-putra bani Abas. Pada abad ke empat H bahasa arab fusha sudah menjadi bahasa tulisan untuk keperluan administrasi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan bahas Arab mulai dipelajari melalui buku-buku ,sehingga bahasa fusha berkembang dan meluas.

5. Priode ke lima. Sesudah abad ke 5 H bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa politik dan adminisrasi pemerintahan, tetapi hanya menjadi bahasa agama. Hal ini terjadi setelah dunia arab terpecah dan diperintah oleh penguasa politik non arab “ Bani Saljuk” yang mendeklarasikan bahasa Persia sebagai bahasa resmi negara islam dibagian timur, sementara Turki Usmani yang menguasai dunia arab yang lainnya mendeklarasikan bawwa bahasa Turki sebagai bahasa administrasi pemerintahan. Kejak saat itu sampai abad ke7 H bahasa Arab semakin terdesak.

6. Priode bahasa arab di zaman baru. Bahasa arab bangkit kembali yang dilandasi adanya upaya-upaya pengembangan dari kaum intelektual Mesir yang mendapat pengaruh dari golongan intelektual Eropa yang datang bersama serbuan Napoleon.

a. Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar disekolah. Waktu-waktu perkuliahan disampaikan dengan bahasa arab.

b. Munculnya gerakan menghidupkan warisan budaya lama dan menghidupkan penggunaan kosakata asli yang berasal dari bahasa fusha.

c. Adanya gerakan yang yang telah berhasil mendorang penerbit dan percetakan dinegara-negara arab untuk mencetak kembali buku-buku sastra arab dari segala zaman dalam jumlah yang sangat besar dan berhasil pula menerbitkan buku-buku dan kamus bahasa arab.

Munculnya kesadaran dari intelektual arab yang mempertahankan bahasa Arab dari berbagai kritikan terhadap bahasa arab yang datang dari non arab atau dari orang arab sendiri untuk mempertahankan bahasa arab, tidak hanya sebagai bahasa agama, melainkan sebagai bahasa nasional dan diwujudkan melalui :
a. adanya usaha-usaha pembinaan dan pengembangan bahasa arab seperti Majma’ al lughah al-arabiyyah th 1934 di Mesir. Tujuannya untuk memelihara keutuhan dan kemurnian bahasa fusha dan melakukan usaha – usaha pengenbangan agar menjadi bahasa yang dinamis, maju dan mampu memenuhi tuntutan kemajuan dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

b. Mendirikan lembaga pendidikan hkususnya pengajaran bahasa arab seperti Al -Azhar jurusan bahasa arab. Perhatian bangsa arab tidak hanya terjadi di Mesir tetapi terjadi pula di negara arab lainnya.

Sekilas Ilmu Bahasa Arab


Ilmu bahasa terdiri dari beberapa ilmu, diantaranya ilmu Nahwu, ilmu Sharaf, Balaghah, ilmu bahasa dan ilmu ‘Arudh.
a. Ilmu Nahwu dan Sharaf
Pada mulanya bahasa Arab dapat bertahan dengan kuat terhadap kemunduran yang mulai terasa pada akhir-akhir masa Bani Umayyah, karena tampuk pemerintahan, seperti jabatan panglima-panglima, gubernur-gubernur dan kedudukan penting lainnya masih dipegang oleh orang Arab, yang bahasanya tetap bahasa (fasih) murni dan bermutu, tambahan pula mereka sangat fanatic terhadap bangsa dan bahasanya.

Dimasa itu seseorang pemimpin yang menyimpang dari tata bahasa yang fasih walaupun sedikit saja sudah dianggap rendah dan hina. Tiap-tiap pemimpin, baik dia pemimpin politik maupun pemimpin perang atau pemimpin sosial, semenjak dari khalifah sampai kepala daerah, adalah orang-orang yang ahli dalam bahasa, cakap berpidato dan dapat mengeritik kasidah-kasidah yang diucapkan dihadapannya. Kefasihan dan ketinggian mutu bahasa ini bukan saja dimiliki oleh para pemimpin, tetapi juga dimiliki umumnya bangsa Arab, karena perasaan bangga terhadap keturunan dan nasab serta perasaan bahwa mereka adalah golongan yang tertinggi dan teristimewa, semangat mendalam dalam jiwa mereka (meskipun prinsip ini bertentangan dengan agama Islam) sehingga mereka enggan bergaul dengan orang yang bukan bangsa Arab dan merasa rerndah bila ikut bekerja bersama-sama orang ‘ajam (bukan orang Arab) itu.

Diantara orang-orang Arab itu jarang sekali yang mau bertani, bertukang, beternak dan sebagainya. Dengan demikian bahasa Arab dapat terjaga kemurniannya, karena percakapan-percakapan di antara orang-orang Arab tidak dapat dipengaruhi oleh kelemahan dan kekurangan mutu bahasa yang dipakai sehari-hari orang ‘ajam itu. Tetapi karena berdirinya kerajaan Bani Abbas boleh dikatakan atas bantuan dan sokongan orang-orang Persia, terutama atas bantuan Abu Muslim Al-Khurasani, maka sebagai balas jasa, diserahkanlah kepada mereka beberapa jabatan yang penting dalam Negara. Dan dengan berangsur-angsur bertambah banyaklah diantara mereka yang menduduki posisi-posisi yang tinggi seperti gubernur, panglima dan menteri.

Makin lama bertambah naik dan kedudukan mereka, dan dengan sendirinya bertambah turun kedudukan orang Arab. Akhirnya tidak sampai satu abad semenjak berdirinya kerajaan Bani Abbas, semua kedudukan yang penting, kecuali pangkat khalifah telah dipegang orang Persia. Oleh karena orang yang memegang kekuasaan bukan orang Arab lagi, maka hilanglah perasaan bangga terhadap nasab dan keturunan, atau perasaan bahwa mereka adalah golongan yang tinggi dan mulia. Kalau dulu mereka enggan bekerja sebagai petani, peternak dan tukang, sekarang mereka telah memasuki semua lapangan, bahkan banyak diantara wanita-wanita Arab yang kawin dengan peranakan Arab-Persia, bahkan ada yang kawin dengan orang Persia sendiri.

Dengan ber-asimilasinya orang-orang Arab kedalam masyarakat orang Persia mulailah bahasa Arab mengalami kemunduran. Apalagi pemimpin-pemimpin yang berkuasa bukan orang Arab. Sehingga timbullah suatu bahasa pasar yang tidak dapat dianggap sebagai bahasa Arab yang murni, seperti yang terjadi di Mesir dan Damaskus, tetapi yang paling hebat adalah kemunduran bahasa Arab di Persia.

Hal ini menimbulkan kesadaran para ulama dan ahli bahasa Arab, sehingga mereka bangun serentak untuk mempertahankan bahasa Arab dari keruntuhannya. Dengan rusaknya bahasa Arab tentu tidak akan ada lagi yang dapat memahami Al-Qur’an Al-Karim, sedangkan Al-Qur’an itu adalah kitab suci yang harus selalu dipelihara dan diselidiki isi dan maknanya. Karena itu mereka merasa, bahwa diatas pundak merekalah terletak kewajiban untuk memelihara Al-Qur’an dengan jalan mempertahankan kemurnian bahasa Arab.

Untuk itu mereka telah mengarang ilmu Nahwu (gramatika bahasa Arab) agar bahasa Arab itu dapat dipelajari dengan baik oleh umat yang tidak berbahasa Arab, sehingga mereka terhindar dari kesalah-kesalahan pengucapan dan dapat membaca dengan fasih.
Ilmu ini telah dirintis penyusunannya, mula-mula oleh Abul Aswad Ad-Duali, atas nasehat Ali bin Abi Thalib. Kemudian ilmu ini berkembang di Bashrah dan menjadi luas pembahasannya, sehingga banyak ulama dan ahli-ahli bahasa yang mengarang kitab-kitab nahwu itu, adalah Abu Ishaq Al-Hadhrami yang wafat tahun 117 H., Isa bin Umar yang wafat tahun 149 H. pengarang kitab Al Jaami’ dan Al Ikmal: Al Khalil bin Ahmad, Sibawaihi, Abu Amir bin Al-‘Ala’ yang wafat tahun 154 H. dan Al-Ahfasy, murid Sibawaihi, ilmu Nahwu ini berkembang pula di Kufah yang dipelopori oleh Mu’adz Al-Harra’, Abu ja’far Ar-Ruasi dan kedua murid-muridnya Al-Kisai dan Al-Farra’, sehingga terjadilah dua aliran dalam ilmu Nahwu ini, yaitu aliran Bashrah dan aliran Kufah. Akhirnya kedua aliran ini bertemu di Baghdad, pusar pemerintahan Abbasiyah- masing-masing dibahas oleh Ibnu Qutaibah dan Hanifah Al-Dinauri.

b. Balaghah
Mereka menyusun pula ilmu Balaghah yang mencakup ilmu Bayan, Ma’ani dan Badi’ untuk menjelaskan keistimewaan dan keindahan susunan bahasa dan segi-segi I’jaz Al Qur’an. Ilmu ini disusun setelah selesai mengarang Nahwu dan Sharaf.
Kitab yang mula-mula dikarang dalam ilmu Bayan ialah kitab Majazul Qur’an oleh Ubaidah, murid Al-Khalil. Kemudian disusul oleh beberapa ulama. Dalam kitab Al Ma’ani, kitab I’jaazul Qur’an yang dikarang oleh Al-Jahizh dan dalam ilmu Badi’ kitab yang dikarang oleh Ibnu Mu’taz dan Qudamah bin Ja’far. Kemudian berturut-turut ulama mengarang bermacam-macam kitab dalam ilmu Balaghah ini sampai muncullah seorang ahli Balaghah yang termasyhur yaitu Abul Qadir Al-Jurjani yang mengarang kitab Dalailil I’jaz dalam ilmu Ma’ani dan kitab Asrarul Balaghah dalam ilmu Bayan dan Asakkaki yang mengarang kitab Miftahul Ulum yang mencakup segala masalah dalam ilmu Balaghah.

c. Ilmu Bahasa
Untuk memelihara pengertian kata-kata dalam Al-Qur’an mereka mengarang kamus bahasa Arab. Pada mulanya kamus-kamus ini hanya merupakan kitab-kitab kecil yang mengupas bermacam-macam kata, seperti kata-kata yang berhubungan dengan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda. Kemudian muncullah Al-Khalil yang mengumpulkan kata-kata bahasa Arab dalam suatu kitab dan menyusunnya berdasar huruf-huruf yang dimulai dengan huruf ‘ain, karena itu kitab ini disebut Kitabul ‘ain. Barulah kemudian dikarang kamus yang tersusun menurut huruf hijaiyah oleh Abu Bakar bin Duraid yang dinamakan Al Jamharah. Lalu timbullah bermacam-macam kamus yang dikarang ahli-ahli bahasa, diantaranya: Asd-Shihah yang dikarang oleh Al Jauhari, Al-Muhkam yang dikarang oleh Ibnu Syayidih, Al-Muhith yang dikarang oleh Ash Shahib bin ‘Ibad, An-Nihayah oleh Ibnu Atsir, Lisanul Arab oleh Ibnu Muqarran dll.. (afa).
Disarikan dari berbagi sumber.

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Monday, 30 August 2010

Sejarah Munculnya Ilmu Nahwu (Tata Bahasa Arab)

Sebab-sebab Munculnya Ilmu Nahwu
Banyak hal yang menyebabkan ilmu nahwu disusun. Secara umum sebabnya adalah seputar kekeliruan orang-orang arab pada bahasa mereka yang disebabkan bercampurnya mereka dengan orang-orang ‘ajam (non arab) yang masuk islam sehingga mempengaruhi tata bahasa mereka. Diantara penyebab utama disusunnya ilmu nahwu adalah:

- Pada masa Rasulullah diriwayatkan bahwa ada seseorang yang keliru dalam penggunaan bahasanya, maka Rasulullah bersabda: “ Bimbinglah saudura kalian ini.. Sesungguhnya dia tersesat”

- Berkata Abu Bakar Ash Shidiq: “Aku lebih menyukai jika aku membaca dan aku terjatuh daripada aku membaca dan aku keliru”

- Pada masa Umar bin Khattab, bahasa yang keliru di kalangan orang arab semakin menjamur. Hal ini disebabkan karena perluasan daerah kekuasaan Islam sehingga banyak orang-orang ‘ajam yang masuk islam. Diantara kesalahan-kesalahan yang terjadi:

1. Umar melewati suatu kaum yang buruk lemparan (tombak) nya maka beliau mencela mereka. Mereka pun menjawab:
إِِنَّا قَوْمٌ مُتَعَلِّمِيْنَ
(Makna yang mereka inginkan adalah: “sesungguhnya kami adalah kaum terpelajar”. Akan tetapi mereka keliru karena yang benar إِنَّا قَوْمٌ مُتَعَلِّمُوْنَdengan merofa’kan kata “مُتَعَلِّمِيْنَ”)
Umar berpaling dari mereka karena marah dan berkata:”Demi Allah kesalahan kalian pada lisan kalian lebih berat menurutku daripada kesalahan kalian pada lemparan (tombak) kalian“.

2. Abu musa Al Asyari mengirimkan surat kepada amirul mukminin Umar bin Khathab yang tertulis di situ kalimat
مِنْ اَبُوْ مُوْسَى إِلَى أَمِيْرِ المُؤْمِنِيَْنَ عُمَرٍ بْنِ الخَطَّابِ
(Dari abu musa kepada Amirul mukminin Umar bin Khathab. Namun secara kaidah bahasa, kalimat yang tepat مِن اَبِيْ مُوْسَى dengan menjarkan kata “اَبُوْ”)
Umar membalas surat tersebut dengan: “Sebaiknya kau cambuk Juru tulis mu (karena keliru)”. Juru tulisnya adalah Abul Hushain Al Anbary.

3. Seorang laki-laki dari gurun (badui) masuk Islam dan meminta diajarkan sesuatu dari Al Quran. Kemudian seorang kaum muslimin membacakan awal surat At Taubah:

“Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu ; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”( At Taubah : 3)

Akan tetapi orang tersebut membacanya sebagai berikut:
أَنَّ اللّهَ بَرِيءٌ مِنَ المُشْرِكِيْنَ وَرَسُوْلِهِ
Yaitu dengan mengkasrahkan kata رَسُوْلُ”” sehingga artinya berubah menjadi“bahwa sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrikin dan RasulNya.”

Berkatalah orang badui tersebut: “Apakah benar bahwa Allah berlepas diri dari Rasul Nya? Demi Allah aku akan berlepas diri dari orang yang Allah berlepas diri darinya.” Ketika Umar mengetahui hal tersebut, ia mengutus seseorang ke orang tersebut dan membenarkan bacaannya dan Ia berseru kepada manusia:”Hendaknya seseorang tidak membaca Al Quran kecuali ia mengetahui bahasa Arab”.

Ini adalah beberapa contoh kekeliruan-kekeliruan yang terjadi pada orang-orang arab disebabkan bercampurnya mereka dengan orang-orang non-Arab. Kekeliruan ini tidak bisa dibiarkan karena dapat merusak pemahaman kaum muslimin terhadap Al Quran sebagaimana contoh yang disebutkan di atas. Oleh karena itu, ilmu nahwu disusun agar memudahkan seseorang dalam mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab sehingga tidak keliru dalam memahami kalimat bahasa Arab.

Pencetus Ilmu Nahwu

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama nahwu tentang siapa pencetus ilmu nahwu. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa pencetus ilmu nahwu adalah:
1. Amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib
2. Abul Aswad Ad Du’aly atas perintah dari Khalifah Umar bin Khathab
3. Abul Aswad Ad Du’aly atas perintah Khalifah Ali bin Abi Thalib atau atas perintah Ziyad,

pemimpin Bashrah atau Abul Aswad sendiri yang mencetuskan nya yang dipicu oleh percakapan antara beliau dan anak perempuan nya. Berkata anaknya: “wahai ayahku.. مَا أَحْسَنُ السَّمَاءِ (Apa yang paling indah dari langit?)” – dengan merofa’kan (membaca dhammah) kata ” أَحْسَنُ ” dan menjarkan (membaca kasrah) kata “السَّمَاءِ“ . Beliau pun menjawab:”Bintang-bintangnya”. Anaknya pun berkata:”Aku bukannya bertanya wahai ayah.. tetapi aku sedang merasa takjub..”. Belaiu pun menjawab:“Kalau begitu seharusnya yang kamu ucapkan adalah.. مَا أَحْسَنَ السَّمَاءَ (betapa langit yang indah!)” – dengan membaca fathah kata “أَحْسَنَ ” dan “السَّمَاءَ “.

4. Abdurrahman bin Humuz Al A’raj
5. Nashr bin ‘Ashim Al Laitsy

Pendapat yang paling kuat dari pendapat-pendapat di atas adalah pendapat yang menyebutkan bahwa pencetusnya adalah Abul Aswad Ad Du’aly atas perintah dari Khalifah Ali Bin Abi Thalib ketika terjadi banyak kekeliruan orang arab terhadap bahasa nya sendiri khususnya kekeliruan mereka dalam membaca Al Quran dan Hadits.

Begitulah sejarah lahir nya ilmu nahwu dimana bisa kita baca dengan jelas bahwa tujuan utamanya adalah agar kaum muslimin dapat membaca Al Quran dan Hadits dengan benar sehingga bisa memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“”Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf : 2)

Imam Syafi’i rohimahulloh berkata, “Manusia tidaklah menjadi bodoh dan berselisih kecuali ketika meninggalkan bahasa Arab dan cenderung kepada bahasa Aristoteles (bahasa orang barat).” [Siyaru A’lamin Nubala, 10/74]

Benarlah perkataan penyair yang berkata:
النَّحْوُ أَوْلَى أَوَّلاً أَنْ يُعْلَمَ.. إِذْ الكَلاَمُ دُوْنَةُ لَنْ يُفْهَمَ..
(Ilmu nahwu adalah hal pertama yang paling utama untuk dipelajari.. karena perkataan tanpanya, tak dapat dipahami..)

* Disarikan dari Diktat Kuliah Ilmu Nahwu, Universitas Al Madinah Internasional (MEDIU)oleh Khairul Umam Al Batawy.
diedit oleh kanhamdan

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Monday, 14 June 2010

Urgensi Bahasa Arab


· Oleh : Abu Farha Qasim Atha

Pendahuluan
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan al-Qur’an dengan standar bahasa Arab dan mengutus rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan Arab yang fasi. Amma ba’du.
Urgensi bahasa Arab meliputi banyak cabang disiplin ilmu yang tidak bisa dipisahkan dari bahasa arab, namun dalam makalah yang sederhana ini kami paparkan hal-hal penting yang terkait dengan kehidupan sehari-hari kaum muslimin yang akan dijelaskan dalam pembahasan nanti.
Tentunya tulisan ini hanya untuk membuka hati dan pikiran kita agar kita memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan bahasa Arab khususnya bagi para pemuda umat ini sesuai dengan profesi dan keahliannya masing-masing. Perlu kesadaran pada diri setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab karena bahasa Arab merupakan bahasa persatuan kaum muslimin.

URGENSI PENGETAHUAN BAHASA ARAB
Ada dua poin penting yang berkaitan dengan pentingnya mempelajari bahasa Arab, yaitu:

1. Sebagai sumber ilmu
2. Sebagai pemersatu ummat

A. Sumber Ilmu
Sepanjang sejarah, bahasa Arab merupakan bahasa yang memiliki cabang ilmu yang indah dan kekuatan sastra yang kokoh sehingga mudah dipahami.
Para ulama mengatakan bahwa seseorang sebelum dia membaca teks Arab dia sudah bisa paham baik dia berbahasa Arab aktif maupun pasif. Berbeda dengan bahasa lain dimana seseorang harus membacanya terlebih dahulu baru kemudian dia bisa paham.1
Bahasa Arab merupakan sumber keilmuan terutama ilmu-ilmu keislaman, karena al-Qu’an, al-hadits, al-atsar serta penjelasan para ulama terdahulu menggunakan bahasa Arab. Kita tidak bisa memahaminya kecuali dengan bahasa Arab. Ini adalah bagian dari mukjizat al-Qur’an yaitu memiliki standar bahasa yang baku yaitu bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan sumber keilmuan karena terdapat beberapa hal sebagai berikut:

1. Sarana mencapai kemuliaan
Ilmu adalah kemuliaan dan tidak bisa diraih kecuali dengan bahasa. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberi kemuliaan pada bahasa Arab dengan dua yaitu:
a.Standar bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab.
Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa wahyu-Nya agar umat manusia bisa memahaminya dengan mudah. Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” 2
b.Memilih dan mengutus rasul-Nya dari orang Arab untuk seluruh alam. Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainka
n menjadi rahmat bagi semesta alam.” 3

Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan orang Arab “asli” yang sangat fasih berbicara dengan menggunakan bahasa Arab.
Bahasa Arab merupakan bahasa yang mulia sehingga menjaga diri seseorang dari kebodohan dan perselisihan. al-Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Manusia tidaklah menjadi bodoh dan berselisih, kecuali ketika mereka meninggalkan bahasa Arab dan cenderung pada bahasa Aristoteles.” 4
Oleh karena itu, banyak orang-orang mulia dari kalangan ulama, pendapat-pendapat mereka dijadikan sebagai sumber rujukan dalam memahami al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah an-Nabawiyah. Mereka diantaranya yaitu:

a.Al-Imam Syafi’i rahimahullah
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hasan al-Ja’farani, dia berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang pun yang lebih fasih dan lebih alim dari Imam syafi’i. Jika dibacakan syai’r di hadapannya pasti beliau mengetahuinya, beliau adalah ibarat lautan ilmu.” 5
Dalam riwayat yang lain, dari Rabi’ah bin Sulaiman, dia berkata, “Saya mendengar Ibn Hisyam rahimahullah pengarang buku Maghazi berkata, “Imam Syafi’i adalah hujjah dan bahasa.” 6
b.Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
Ibrahim al-Harbi rahimahullah berkata, “Saya melihat Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah seakan-akan Allah mengumpulkan ilmu orang terdahulu dan terakhir untuknya.” 7
c.Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah
Abu Hayyan rahimahullah adalah guru para ahli Nahwu, ketika dia bertemu dengan Ibn Taimiyah rahimahullah, dia berkata, “Kedua mata saya belum pernah melihat orang seperti Ibn Taimiyah.” 8

Dengan demikian, para ulama mendapat kemuliaan baik disisi manusia maupun disisi Allah karena mereka menjadikan bahasa Arab sebagai sarana untuk memahami agama ini.

2. Sarana memahami agama
Bahasa arab merupakan sarana yang paling penting untuk memahami agama Islam. Hal ini karena al-Qur’an, al-hadits, al-atsar, tafsir, dan penjelasan para ulama sebagian besar menggunakan bahasa Arab. Untuk bisa memahaminya kita membutuhkan sarana yaitu bahasa Arab.
Oleh karena itu, sahabat yang mulia al-Faruq Umar bin khaththab radiallahu ‘anhu diriwayatkan telah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari radiallahu ‘anhu seraya berkata,
تعلموا العربية فإنها من دينكم……
“Belajarlah bahasa Arab karena sesungguhnya bahasa Arab itu bagian dari agama kalian.”
9
Dalam riwayat yang lain dari Umar bin Zaid berkata, “Umar bin Khaththab radiallahu ‘anhu menulis surat kepada abu Musa al-Asy’ari radiallahu’anhu, ‘pahamilah sunnah dan pahamilah bahasa arab.’ ” 10
Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mengarahkan penuntut ilmu hadits agar mempelajari bahasa dan Sastra arab. Beliau berkata, “Menurut pandangan saya, seorang penuntut ilmu yang mendalami ilmu hadits harus memperbanyak studi ilmu sastra dan bahasa Arab sehingga dia mampu menguasai fiqhul hadits dengan baik karena hadits adalah ucapan orang Arab (rasulullah) yang paling fasih.” 11
Keterangan di atas adalah wujud perhatian besar para ulama terhadap bahasa Arab yang merupakan sarana mereka dalam memahami agama Islam.

B. Pemersatu Ummat
Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa bahasa Arab bukanlah bahasa orang Arab semata, akan tetapi merupakan bahasa kaum muslimin di seluruh dunia yang dengannya kaum muslimin menyatu dalam beberapa aspek ibadah dan dengan tujuan ini pula Allah menurunkan al-Qur’an menggunakan bahasa bahasa Arab.
Jika bahasa Arab hanya menjadi bahasa orang (bangsa) Arab saja maka tidak mungkin Allah menurunkan al-Qur’an dengan bahasa Arab. Hal itu bertentangan dengan firman-firman-Nya, seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan mengenai “sumber ilmu”.
Dalam Islam, ada beberapa ibadah yang tidak bisa dikerjakan kecuali dengan bahasa arab, diantaranya sebagai berikut:
1.Shalat
Shalat tidak sah kecuali dengan bahasa arab, mulai dari panggilan untuk shalat (adzan dan iqamah), dan saat melakukan shalat yang diawali dengan takbiratul ihram, bacaan ayat-ayat al-Qur’an, dzikir-dzikir, dan salam, semua itu diucapkan dengan bahasa arab.
2. Dzikir-dzikir dan do’a-do’a
Dzikir dan do’a pada asalnya mengunakan bahasa Arab. Hal itu lebih utama, termasuk dalam dzikir adalah membaca al-Qur’an. Para ulama mengatakan diantara dzikir-dzkir yang paling utama adalah membaca al-Qur’an selain kalimat thayyibah (
لا إله إلا الله).
Seseorang dikatakan telah membaca al-Qur’an jika dia membaca teks
aslinya. Orang yang membaca terjemahannya tidaklah dikatakan membaca al-Qur’an, karena bisa jadi terjemahan itu keliru.
Walaupun dzikir dan do’a secara umum boleh menggunakan bahasa terjemahan (bahasa Ibu) bagi orang non-Arab, namun “tidak” di semua tempat dan waktu boleh berdzikir dan berdo’a menggunakan bahasa non-Arab.

C. Kesimpulan.
Urgensi bahasa Arab selain sebagai bahasa al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sebagai bahasa komunitas kaum muslimin di seluruh dunia. Apabila kita menengok sejarah perkembangan Islam maka tidak terlepas dari bahasa arab. Hal ini bisa kita lihat pada beberapa negara di Afrika yang sampai sekarang masih menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa ibu (bahasa sehari-hari). Wallahu a’lam

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

BACA SELENGKAPNYA>>>>

Sunday, 6 June 2010

Keunggulan Bahasa Arab

Manakala bahasa mulia telah ditelantarkan, bahasa yang mengantarkan pada pemahaman ilmu Qur'an dan sunnah yang shohih telah dicampakkan, apa yang akan terjadi??

Pertanyaan itu salah satunya dapat dijawab dengan ungkapan seorang ulama yang terkenal dengan kedalaman ilmunya, Imam Asy Syafi'i.

"Manusia menjadi buta agama, bodoh dan selalu berselisih paham lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles."1


Kita tentu sering menemui banyak dari masyarakat kita yang notabene sebagian besar kaum muslimin, seolah mewajibkan putra-putri mereka untuk belajar bahasa asing, terutama Bahasa Inggris. Supaya bisa bersaing di dunia internasional, kata mereka. Memang tidak ada larangan untuk mempelajarinya, karena bahasa Inggris merupakan ilmu yang mubah untuk dipelajari, apalagi jika diniatkan untuk mempermudah dakwah. Tapi ketika niat telah ternoda, tertuju pada urusan duniawi yang fana semata, serta diiringi dengan pemberian porsi yang tidak adil, bahkan mencapai taraf mencibir terhadap Bahasa Arab, bahasa mulia yang justru sangat penting untuk dipelajari. Apakah ini dibenarkan??!

Jauh berbeda dengan masa lampau, bahasa Arab sangat mendapatkan tempat di hati kaum muslimin. Ulama dan para khalifah sekalipun mencurahkan perhatian yang begitu besar terhadap bahasa Arab. Mereka begitu bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk menguasai, mengajarkan, dan memberi fasilitas bagi putra-putri mereka memperdalam bahasa Arab. Bahkan diceritakan, para ulama salaf terdahulu memukul putra-putri mereka karena kesalahan berbahasa. Sungguh ironis, jika melihat kenyataan pada masa sekarang, tentu mereka akan sangat bersedih dan terpukul.

Mungkin banyak yang belum tahu atau belum menyadari bahwa bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lain di dunia ini. Ragam keunggulan bahasa Arab begitu banyak. Bagaimana mungkin seorang muslim lebih memilih untuk mencintai bahasa lain sedangkan ia memiliki bahasa yang lebih indah, yang lebih pantas untuk dicintai.

Keunggulan dan Keistimewaan Bahasa Arab
Bahasa Arab adalah bahasa yang mulia dan istimewa. Bahasa Arab telah dipilih oleh Allah sebagai bahasa kitab-Nya, seperti yang difirmankan oleh Allah :
Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).
Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan ayat di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah j), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril ), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.

” Allah juga memilih Bahasa Arab menjadi bahasa penutup para Nabi, yaitu Muhammad j. Bahasa ini menjadi bahasa verbal Rasulullah j dan shahabat-shahabatnya. Hadits-hadits Nabi yang sampai kepada kita menggunakan bahasa Arab. Demikian juga kitab-kitab rujukan yang ditulis oleh para ulama, tertulis dengan bahasa ini. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi jalan awal untuk memahaminya.
Selain itu, berbeda dengan bahasa lain, susunan kata dalam Bahasa Arab tidak banyak. Sebagian besar tersusun atas tiga huruf saja. Ini akan mempermudah pemahaman dan pengucapannya. Disamping itu, kosakata dalam bahasa Arab pun sangat indah. Seseorang yang mencermati ungkapan dan kalimat dalam bahasa Arab, ia akan merasakan sebuah ungkapan yang indah dan gamblang, tersusun dengan kata-kata yang ringkas, padat, dan syarat dengan makna.

Namun bukan berarti belajar bahasa Arab itu mudah, hanya butuh waktu yang singkat untuk menguasainya, sama sekali tidak…, tetap dibutuhkan semangat, kesungguhan, dan keistiqomahan dalam mempelajarinya. Bahkan semangat dan kesungguhan itu harus lebih daripada mempelajari bahasa lainnya, karena ada pahala dan janji yang besar dibalik itu semua.

Perhatian Salaf dan Mujaddid Abad Ini Terhadap Bahasa Arab
Para salafushsholih dan para mujaddid abad ini yang tidak perlu diragukan lagi kegigihan, kesungguhan dan semangat mereka dalam berjuang menegakkan agama Islam, sangat memperhatikan Bahasa Arab. Dalam perjalanan hidup mereka banyak sekali perkataan dan perbuatan yang mencerminkan begitu besar perhatian mereka terhadap bahasa mulia ini.

Umar bin Khaththab pernah rnenulis surat kepada Abu Musa yang berisi pesan: "Amma ba’du, pahamilah sunnah dan pelajarilah bahasa Arab". Pada kesempatan lain, beliau mengatakan: "Semoga Allah merahmati orang yang meluruskan lisannya (dengan belajar bahasa Arab)’. Pada kesempatan lain lagi, beliau menyatakan: "Pelajarilah agama, dan ibadah yang baik, serta mendalami bahasa Arab". Beliau juga mengatakan: "Pelajarilah bahasa Arab, sebab ia mampu menguatkan akal dan menambah kehormatan".4
Berbahasa yang baik dan benar sudah menjadi ciri khas dan hampir menjadi suatu keharusan generasi Salaf. Oleh karena itu, kekeliruan dalam pengucapan ataupun ungkapan yang tidak sesuai dengan kaidah bakunya dianggap sebagai cacat, yang mengurangi martabat di mata orang banyak. Umar bin Khaththab pernah mengomentari cara memanah beberapa orang dengan berucap: "Alangkah buruk bidikan panah kalian". Mereka menjawab, "Nahnu qawmun muta’alimiina (kami adalah para pemula)"5, maka Umar berkata, ‘Kesalahan berbahasa kalian lebih fatal menurutku daripada buruknya bidikan kalian…"6 Sungguh, sangat keras teguran beliau kepada orang yang salah dalam berbahasa.

Para ulama pun tak kalah perhatiannya terhadap bahasa Arab. Mereka tidak pernah menganggap remeh bahasa ini, mereka mempelajarinya sebagaimana mempelajari ilmu syar'I yang lain, karena bahasa Arab merupakan sarana untuk mempelajari ilmu syari'at. Di antaranya adalah Imam Syafi’I, Ibnul Qayyim, dan Imam Syaukani.
Imam Syafi'i telah mencapai puncak dalam penguasaan bahasa Arab, sehingga dijuluki sebagai orang Quraisy yang paling fasih pada masanya. Dia termasuk yang menjadi rujukan bahasa Arab. Ibnul Qayyim juga dikenal memiliki perhatian yang kuat terhadap bahasa Arab. Beliau mempelajari dari kitab Al Mulakhkhash karya Abul Baqa’, Al Jurjaniyah, Alfiyah Ibni Malik, Al Kafiyah Asy Syafiah dan At Tashil, Ibnul Fathi Al Ba’li. Beliau juga belajar dari Ali bin Majd At Tusi. Demikian halnya dengan Imam Syaukani. Ulama ini menimba ilmu nahwu dan sharaf dari tiga ulama sekaligus, yaitu: Sayyid Isma’il bin Al Hasan, Allamah Abdullah bin Ismail An Nahmi, dan Allamah Qasim bin Muhammad Al Khaulani.

Tidak berbeda dengan mujaddid 'pembaharu' abad ini seperti Syaikh Al-'Alamah Abdul Azis bin Baaz, Al-'Alamah Al-Albani, dan Al 'Alamah Syaikh Ibnu Al-Utsaimin. Mereka mencurahkan segala-galanya untuk Islam. Mereka menimba ilmu semenjak kecil, tidak pernah bosan dan berputus asa. Ilmu bahasa Arab pun tidak tertinggal untuk mereka pelajari.

Syaikh AlBani pernah berkata, "Sesungguhnya di antara nikmat yang besar dan tak terhingga dari Allah kepadaku ada dua hal; hijrahnya ayahku ke Syam dan dia mengajarkanku memperbaiki jam." Dia belajar dari ayahnya cara memperbaiki jam hingga dia mahir dan terkenal dalam bidang itu. Dia mencari nafkah dengan itu. Dia berkata, "pertama aku diberi kemudahan untuk belajar bahasa Arab yang sebelumnya ketika kami di Albania tidak pernah terlintas bahwa aku akan bisa berbahasa Arab, walau satu huruf pun. Tidak ada jalan untuk memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah j, kecuali dengan bahasa Arab."7 Beliau sangat bersyukur atas kemudahan untuk mempelajari bahasa Arab yang sebelumnya beliau pikir sangat kecil peluangnya. Bahkan beliau menempatkannya sebagai nikmat yang besar dan tak terhingga.
Subhanallaah, mereka adalah ulama-ulama yang terkenal kedalaman ilmunya begitu perhatian, semangat, gigih untuk mempelajari bahasa Arab. Pantaskah kita untuk meremehkan bahasa ini?

BACA SELENGKAPNYA>>>>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...