Monday, 12 March 2012

Kesesatan Wahabi

Di bawah ini ada sedikit uraian tentang wahabi dan kesesatannya, saya hanya menukil, sedangkan pandangan kembali pada diri masing-masing. 
























Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi 

Judul      : Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi 
Penulis   : Syaikh Idahram 
Penerbit : LKiS Yogyakarta Cetakan: I, 2011 
Tebal     : 340 halaman, 13,5 x 20,5 cm ISBN: 602-8995-02-3 


Peresensi: Hairul Anam 

Selama ini, kaum Salafi Wahabi selalu getol menyesatkan umat Islam yang tak selaras dengan ideologinya. Mereka cenderung melakukan beragam cara, terutama melalui tindakan-tindakan anarkis yang meresahkan banyak kalangan. Padahal, ketika dilakukan kajian mendalam, justru Salafi Wahabi-lah yang sarat dengan pemahaman menyesatkan. Sesat karena berbanding terbalik dengan ajaran Islam yang terkandung di dalam hadis dan al-Qur’an. Setidaknya, buku ini memberikan gambaran jelas akan hal itu. 

Buku berjudul Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, ini secara komprehensif mengungkap kesesatan pemikiran para ulama yang menjadi panutan utama kaum Salafi Wahabi. 

Didalamnya dijelaskan betapa para ulama Salafi Wahabi itu menggerus otentisitas ajaran Islam, disesuaikan dengan kepentingan mereka. Terdapat tiga tokoh utama Salafi Wahabi: Ibnu Taimiyah al-Harrani, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pemikiran mereka nyaris tidak membangun jarak dengan kerancuan serta beragam penyimpangan. Penyimpangan yang dilakukan Ibnu Taimiyah (soko guru Salafi Wahabi) ialah meliputi spirit menyebarkan paham bahwa zat Allah sama dengan makhluk-Nya, meyakini kemurnian Injil dan Taurat bahkan menjadikannya referensi, alam dunia dan makhluk diyakini kekal abadi, membenci keluarga Nabi, menghina para sahabat utama Nabi, melemahkan hadis yang bertentangan dengan pahamnya, dan masih banyak lagi lainnya. Dalam pada itu, wajar manakala ratusan ulama terkemuka dari berbagai mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Ja’fari/Ahlul Bait, dan Syiah Itsna Asyariah) sepakat atas kesesatan Ibnu Taimiyah, juga kesesatan orang-orang yang mengikutinya, kaum Salafi Wahabi. Lihat di antaranya kitab al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyyah karya Sha’ib Abdul Hamid dan kitab ad-Dalil al-Kafi fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabi karya Syaikh Al-Bairuti. (hal. 90). 

 Sebagai penguat dari fenomena itu, terdapat ratusan tokoh ulama, ahli fikih dan qadhi yang membantah Ibnu Taimiyah. Para ulama Indonesia pun ikut andil dalam menyoroti kesesatan Ibnu Taimiyah ini, seperti KH Muhammad Hasyim Asy’ari (Rais ‘Am Nahdhatul Ulama dari Jombang Jawa Timur), KH. Abu al-Fadhl (Tuban Jawa Timur), KH. Ahmad Abdul Hamid (Kendal Jawa Tengah), dan ulama-ulama nusantara tersohor lainnya. Pendiri Salafi Wahabi, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, juga membiaskan pemikiran yang membuat banyak umat Islam galau kehidupannya. Ragam nama dan pemikiran ulama yang menguak penyimpangannya dimunculkan secara terang-terangan dalam buku ini, dilengkapi dengan argumentasi yang nyaris tak bisa terpatahkan. 

Dibanding Ibnu Taimiyah, sikap keberagamaan Abdul Wahab tak kalah memiriskan. Ada sebelas penyimpangan Abdul Wahab yang terbilang amat kentara. Yakni: Mewajibkan umat Islam yang mengikuti mazhabnya hijrah ke Najd, mengharamkan shalawat kepada Nabi, menafsirkan al-Qur’an & berijtihad semaunya, mewajibkan pengikutnya agar bersaksi atas kekafiran umat Islam, merasa lebih baik dari Rasulullah, menyamakan orang-orang kafir dengan orang-orang Islam, mengkafirkan para pengguna kata “sayyid”, mengkafirkan ulama Islam di zamannya secara terang-terangan, mengkafirkan imam Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in dan Ibnu Faridh, mengkafirkan umat Islam yang tidak mau mengkafirkan, dan memuji kafir Quraisy-munafik-murtad tapi mencaci kaum Muslimin. (hal. 97-120). 

Nasib Abdul Wahab tidak jauh beda dengan Ibnu Taimiyah; ratusan tokoh ulama sezaman dan setelahnya menyatakan kesesatannya. Di antara para ulama yang menyatakan hal itu adalah ulama terkenal Ibnu Abidin al-Hanafi di dalam kitab Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar. Juga Syaikh ash-Shawi al-Mishri dalam hasyiah-nya atas kitab Tafsir al-Jalalain ketika membahas pengkafiran Abdul Wahab terhadap umat Islam. Searah dengan Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab, Muhammad Nashiruddin al-Albani melakukan tindakan yang membentur kemurnian ajaran Islam. Ia telah mengubah hadis-hadis dengan sesuatu yang tidak boleh menurut Ulama Hadis. Sehingga, sebagaimana diakui Prof Dr Muhammad al-Ghazali, al-Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai suatu hadis, baik shahih maupun dhaif. Selain ketiga ulama di atas, ada 18 ulama Salafi Wahabi yang juga diungkap dalam buku ini. Mereka telah menelorkan banyak karya dan memiliki pengaruh besar terhadap konstelasi pemikiran kaum Salafi Wahabi. 

Di samping itu, Syaikh Idahram juga menghimbau agar umat Islam mewaspadai terhadap tokoh Salafi Wahabi generasi baru. Mereka adalah anak murid para ulama Salafi Wahabi. Secara umum, mereka berdomisili di Saudi Arabia. Menariknya, buku ini kaya perspektif. Referensi yang digunakannya langsung merujuk pada sumber utama. Data-datanya terbilang valid. Validitas data tersebut dapat dimaklumi, mengingat karya fenomenal ini berpangkal dari hasil penelitian selama sembilan tahun, mulai 2001 sampai 2010. Selamat membaca!

* Penggiat buku di Intitut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep.
sumber
Artikel Terkait

Comments
11 Comments

11 comments:

Muhammad Noor Ridho Aji said...

Afwan, sekali lagi tolong sertakan nukilan buku yang mengatakan Muhammad bin Abdul Wahhab seperti itu!

Jika seandainya memang demikian yang terjadi maka yang seharusnya dilakukan adalah kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah Nabi dengan pemahaman Shahabat, Tabi'in, dan Tabiut Tabi'in

Jangan berpedoman kepada seseorang sekalipun itu ulama yang populer di kalagan hadist maupun fikih atau lainnya jika mereka memang secara jelas menyelisihi pemahamannya para Shahabat, Tabi'in dan Tabiut Tabi'in

Jika seandainya pemahaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memang tidak sesuai dengan pemahamannya Shahabat maka harus kita tinggalkan tapi ya harus secara ilmiah dong! Mana buktinya kalau Abdul Wahhab menyelisihi para Shahabat?

Mengenai Imam Nawawi, Ibnu Hajar, al-Haitami, dll (yang menurut kalian berpemahaman Asy'ariyah, padahal jika kita teliti lebih dalam mungkin itu tidak benar). Jika seandainya mereka memang berbeda pemahamannya dengan Shahabat, maka kita juga harus keluar untuk mengikuti Shahabat. Karena itulah yang paling benar. Aku tidak akan peduli seberapa ilmunya para ulama kalau saya tahu mereka menyelisihi Shahabat, maka yang harus kita lakukan adalah mengikuti Para Shahabat karena ulama se-alim apapun mereka tetap bukan seorang ma'shum yang tanpa salah

Mungkin yang menjadi pokok dasar paham Asy'ariyah adalah Allah itu ada tanpa tempat bukan di atas 'Arsy (jika salah tolong dibenarkan)

Pertanyaannya, apakah Shahabat berpemahaman demikian? kalau iya, mana buktinya?

Yang saya tahu dari Ibnu Abbas (shahabat yang ahli tafsir karena Rasulullah sendiri pernah mendoakan agar Ibnu Abbas dipahamkan agama)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa istawa itu artinya seperti aslinya yaitu bersemayam bukan berkuasa.

Hal ini juga yang dipahami oleh Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad

Dan ini juga yang dipahami oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS. Al-A'raf:54)
Wallahu a'lam

Muhammad Noor Ridho Aji said...

Kenapa komen ana tidak dijawab akh?

Mari kita belajar agama Islam ini dengan benar sesuai pemahaman Shahabat, Tabi'in, dan Tabiut Tabi'in
Allahu musta'an

Dadan Hamdan Syukrillah said...

saya setuju kalau sesuai pemahaman sahabat, tabiin dan tabiuttabiin... namun nyatanya pemahaman mereka banyak yg diselewengkan oleh manusia akhir zaman yang belajar agama tanpa talaqqi langsung dengan guru, alias belajar tidak bersanad dan bahkan otodidak, masalahnya ketika belajar agama otodidak maka ketika ia salah maka tidak ada yang menegur...

Abu Abdul Aziz said...

Assalamualaikum. ya akhi, afwan ana ada sedikit komen untuk antum, ana sekarang sedang kuliah di Unpad, jurusan sastra arab. Kebetulan disini ada pengajian yang mana mereka menamakan diri dengan "Ahlussunnah", namun kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka adalah "Salafy Wahhabi". Ana mencoba untuk mengikuti kajian mereka, karena ana tidak percaya jika ana sendiri belum mencobanya, dan kebetulan sekali pada waktu itu yang dibahas adalah kitab "Tsalatsatul Ushul", karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. MasyaAllah, selama ana mengikuti kajian mereka, ana tidak pernah sekalipun menemukan seperti apa yang antum sebutkan di atas, malahan ana hanya menemukan, "qolallahu ta'ala, wa qola rasulullah shalallahu'alaihi wassalam", dan ana juga banyak menemui perkataan para ulama, semisal Asy-Syafi'i, Imam Malik, Imam Hambal, dan Ulama-ulama ahlussunnah. Ya akhi, memang banyak ana temui orang-orang yang menggugat beliau, namun disisi lain mereka yang menggugat banyak memiliki penyimpangan, terutama dalam permasalahan akidah. Pernah ada sebuah kisah, seorang Syaikh, beliau sangat membenci yang namanya Muhammad bin Abdul Wahhab, kemudian datang seseorang padanya dengan membawa sebuah kitab berjudul Kitabut tauhit, namun orang tersebut tidak menyebutkan siapa penulisnya. Maka dibacalah kitab itu oleh syaikh tadi, kemudian dia berkata, "MasyaAllah, ini adalah kitab yang terbaik yang pernah saya baca, tidaklah disebutkan kecuali firman Allah, dan Sabda rasululla shalallahu 'alaihi wasallam", kemudian disebutkanlah bahwa penulisnya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab. Dan setelah itu, Syaikh tadi memuji-muji Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena selama ini beliau hanya mendapat khabar dari orang-orang yang berpikiran negatif terhadap Ibnu Wahhab.
Maka dari itu ya akhi, ana sarankan antum coba untuk membaca kitab beliau, sebelum antum memutuskan bagaimana beliau. Cobalah untuk dapat berpikir objektif, lebih ilmiah, ana faham antum lebih pintar dari ana. Tapi cobalah untuk lebih bersikap ilmiah. Wallahu a'lam bishowab, Baarakallahu fiikum. hamba yang fakir dihadapn Allah..

Dadan Hamdan Syukrillah said...

AL-Quran dan Alhadits itu pasti benar namun pemahaman seseorang belum tentu benar

faham?

Ngaji Online said...

supaya berimbang baca juga buku BERSIKAP ADIL KEPADA WAHHABI.. penulisnya AM WASKITO, identitasnya jelas, tidak semisterius Syaikh Idahram...

kalau memang mau mencari kebenaran, yaa baca dari beragam sumber. karena sperti yang sdulurku Hamdan katakan, pemahaman seseorang tidak selamanya benar. dan itu mencakup siapa saja..

Dadan Hamdan Syukrillah said...

kembali kepada keyakinan masing-masing

madu pahit said...

Afwan, sekali lagi tolong sertakan nukilan buku yang mengatakan Muhammad bin Abdul Wahhab seperti itu!

Jika seandainya memang demikian yang terjadi maka yang seharusnya dilakukan adalah kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah Nabi dengan pemahaman Shahabat, Tabi'in, dan Tabiut Tabi'in

Jangan berpedoman kepada seseorang sekalipun itu ulama yang populer di kalagan hadist maupun fikih atau lainnya jika mereka memang secara jelas menyelisihi pemahamannya para Shahabat, Tabi'in dan Tabiut Tabi'in

Jika seandainya pemahaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memang tidak sesuai dengan pemahamannya Shahabat maka harus kita tinggalkan tapi ya harus secara ilmiah dong! Mana buktinya kalau Abdul Wahhab menyelisihi para Shahabat?

Mengenai Imam Nawawi, Ibnu Hajar, al-Haitami, dll (yang menurut kalian berpemahaman Asy'ariyah, padahal jika kita teliti lebih dalam mungkin itu tidak benar). Jika seandainya mereka memang berbeda pemahamannya dengan Shahabat, maka kita juga harus keluar untuk mengikuti Shahabat. Karena itulah yang paling benar. Aku tidak akan peduli seberapa ilmunya para ulama kalau saya tahu mereka menyelisihi Shahabat, maka yang harus kita lakukan adalah mengikuti Para Shahabat karena ulama se-alim apapun mereka tetap bukan seorang ma'shum yang tanpa salah

Mungkin yang menjadi pokok dasar paham Asy'ariyah adalah Allah itu ada tanpa tempat bukan di atas 'Arsy (jika salah tolong dibenarkan)

Pertanyaannya, apakah Shahabat berpemahaman demikian? kalau iya, mana buktinya?

Yang saya tahu dari Ibnu Abbas (shahabat yang ahli tafsir karena Rasulullah sendiri pernah mendoakan agar Ibnu Abbas dipahamkan agama)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa istawa itu artinya seperti aslinya yaitu bersemayam bukan berkuasa.

Hal ini juga yang dipahami oleh Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad

Dan ini juga yang dipahami oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS. Al-A'raf:54)
Wallahu a'lam

abdurrohman said...

uwes Akh "madu pahit"... jelas bingung golek referensine. misal nemu tetep ae sumbere gak jelas, gak bisa dipertanggungjawabke. pol jawabane sesuai keyakinan masing-masing. golek kebenaran kok mung modal yakin tok ... Afwan akh rodo kasar bahasane. turahan warahane pak Yai ...

Mahmuddin Ka Amtsalillu'luilmaknun said...

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku (Al-Quran.3:20).Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama) ialah bid’ah, sedang setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di Neraka.(HR. An Nasa’i & Ibnu Majah).

firman said...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,terima kasih sebelumnya kepada ustadz dadan atas referensi bukunya,alangkah baiknya tuduhan yang dialamatkan kepada Imam Ibnu Taimiyah harus melalui referensi yang jelas,bahkan beliau sendiri mampu melahirkan murid-murid yang mampu menjadi referensi bagi umat.
Ibnu Katsir
Ibnul Qoyyim
Adz Zahabi
terima kasih,wasalamualaikum warohmatulohi wabarokatuh

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...