Friday, 29 July 2011

Hukum Melafadzkan Niat

ini adalah sebuah dialog di facebook dan Alhamdulillah sempat saya kopi ke komputer sebelum saya di blokir tidak bisa memberi komen lagi, disini ada sebuah status yang menyinggung masalah melafadzkan niat, apakah melafadzkan niat itu perlu ataukah itu bid'ah dolalah dan bisa menyebabkan masuk neraka ? ini dialognya :




Niat adlh keinginan utk melakukan sesuatu.
Apakah perlu mengucapkan niat, misal ketika hendak berdzikir?

20 hours ago via 0.facebook.com ·  · 

  • Ria Farhan and 61 others like this.

    • Verro Aulia tolong di jelaskan Akhi....sukron
      20 hours ago ·  ·  1 person

    • Lutfiyah Ana kan innamal a'malu binniyat.
      20 hours ago · 

    • Fitri Wulandari Tdk perlu..
      20 hours ago · 

    • Linda Gustina niat adalah pekerjaan hati.... afwan...
      20 hours ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah fasaluu ahladzikri inkuntum laa ta'lamuun....

      jika engkau tidak mengetahui maka bertanyalah pada ulama sebagai pewaris para Nabi

      20 hours ago ·  ·  1 person

    • Ria Farhan Menyimak, . .
      20 hours ago · 

    • Ana Rita Rizki niat hanya di dalam hati....
      19 hours ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah 
      Tempatnya niat adalah di dalam hati. Sebagaimana diterangkan dalam Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, pada pembahasan فرائض الصلاة


      ومحلها القلب لا تعلق بها باللسان أصلا
      “niat tempatnya didalam hati, pada asalnya tidak terikat dengan lisan”


      Al-Allamah Al-Imam An-Nawawi, dalam kitab Al-Majmu' (II/43) :

      فإن نوى بقلبه دون لسانه أجزأه
      “sesungguhnya niat dengan hati tanpa lisan sudah cukup,

      Al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim asy-Syafi’i, didalam Kitab Fathul Qarib, pada pembahasan Ahkamush Shalat ;

      النِّيَةُ) وَ هِيَ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً بِفِعْلِهِ وَ مُحَلُّهَا اْلقَلْبُ
      “niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya dan tempat niat itu berada di dalam hati.”

      Al-Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini, didalam Kifayatul Ahyar Fiy Ghayatil Ikhtishar, pada bab (باب أركان الصلاة)]

      واعلم أن النية في جميع العبادات معتبرة بالقلب فلا يكفي نطق للسان
      “Ketahuilah bahwa niat dalam semua ibadah menimbang dengan hati maka tidak cukup hanya dengan melafadzkan dengan lisan”

      Demikian juga dikatakan dalam kitab yang sama (Kifayatul Akhyar) pada bab باب فرائض الصوم

      لا يصح الصوم إلا بالنية للخبر، ومحلها القلب، ولا يشترط النطق بها بلا خلاف
      “Tidak sah puasa kecuali dengan niat, berdasarkan khabar (hadits shahih), tempatnya niat didalam hati, dan tidak syaratkan mengucapkannya tanpa ada khilaf”

      Keterangan : pada bab Fardhu Puasa ini, mengucapkan niat tidak disyaratkan artinya bukan merupakan syarat dari puasa. Dengan demikian tanpa mengucapkan niat, puasa tetap sah. Demikian juga dengan shalat, melafadzkan (mengucapkan) niat shalat bukan merupakan syarat dari shalat, bukan bagian dari fardhu shalat (rukun shalat). Jadi, baik melafadzkan niat (talaffudz binniyah) maupun tidak, sama sekali tidak menjadikan shalat tidak sah, tidak pula mengurangi atau menambah-nambah rukun shalat.

      Al-Hujjatul Islam Al-'Allamah Al-Faqih Al-Imam Al-Ghazaliy, didalam kitab Al-Wajiz fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi'i, Juz I, Kitabus Shalat pada al-Bab ar-Rabi' fi Kaifiyatis Shalat ;

      "niat dengan hati dan bukan dengan lisan"

      Semua keterangan diatas hanya menyatakan bahwa niat tempatnya didalam hati (tidak ada cap bid’ah), niat amalan hati atau niat dengan hati. Demikian juga dengan niat shalat adalah didalam hati, sedangkan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) bukanlah merupakan niat, bukan pula aktifitas hati (bukan amalan hati) namun aktifitas yang dilakukan oleh lisan. Niat dimaksudkan untuk menentukan sesuatu aktifitas yang akan dilakukan, niat dalam shalat dimaksudkan untuk menentukan shalat yang akan dilakukan. Dengan kata lain, niat adalah memaksudkannya sesuatu. Ibnu Manzur dalam kitabnya yang terkenal yaitu Lisanul ‘Arab (15/347) berkata ;

      " Meniatkan sesuatu artinya memaksudkannya dan meyakininya. Niat adalah arah yang dituju”.

      Sebagaimana juga dikatakan didalam kitab Fathul Qarib Bisyarhi At-Taqrib :

      وَ هِيَ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً بِفِعْلِهِ
      “niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya”

      Al-Fiqh al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam asy-Syafi'i, pada pembahasan Arkanush Shalat ;

      وهي قصد الشيء مقترناً بأول أجزاء فعله، ومحلها القلب. ودليلها قول النبي"إنما الأعمال بالنيات"
      "(Niat), adalah menyengaja (memaksudkan) sesuatu bersamaan dengan sebagian dari perbuatan, tempatnya didalam hati. dalilnya sabda Nabi SAW ; ("إنما الأعمال بالنيات")"

      Al-'Allamah Asy-Syaikh Al-Imam Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj ‘alaa Matn Al-Minhaj (السراج الوهاج على متن المنهاج)

      وهي شرعا قصد الشيء مقترنا بفعله وأما لغة فالقصد
      "(niat) menurut syara' adalah menyengaja sesuatu bersamaan dengan perbuatan, dan menurut lughah adl menyengaja"

      Dan masih banyak lagi penjelasan yang serupa. Maka, selagi lagi kami perjelas. Niat adalah amalan hati, niat shalat dilakukan bersamaan dengan takbiratul Ihram, merupakan bagian dari shalat (rukun shalat), adapun melafadzkan niat (mengucapkan niat) adalah amalan lisan (aktifitas lisan), yang hanya dilakukan sebelum takbiratul Ihram, artinya dilakukan sebelum masuk dalam bagian shalat (rukun shalat) dan bukan merupakan bagian dari rukun shalat. Niat shalat tidak sama dengan melafadzkan niat.

      19 hours ago ·  ·  2 people

    • Dadan Hamdan Syukrillah melafadzkan niat ga masalah... siapa yg mengharamkannya ?
      19 hours ago · 

    • Eka Nugraha 
      Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, "Dalam semua amalan, niat tempatnya di hati, bukan di lidah. Oleh karena itu, barangsiapa yg mengucapkan niat dengan lisan ketika hendak shalat, puasa, haji, wudhu, atau amalan yg lain, maka dia telah melakukan bid'ah mengamalkan sesuatu yg tdk ada asalnya dalam agama Allah. Hal itu karena Nabi berwudhu, shalat, bersedekah, berpuasa, dan berhaji tidak pernah mengucapkan niat dgn lisan, karena niat memang tempatnya di hati. Allah mengetahui apa yg ada dalam hati; tidak ada sesuatu pun yg tersembunyi bagi-Nya," sbgmana yg difirmankan oleh Allah 'Azza wa Jalla dalam ayat yg dibawakan oleh pengarang (yakni Imam Nawawi):
      Katakanlah: Jika kamu menyembunyikan sesuatu yg ada dalam hatimu atau kamu menampakannya, pasti Allah mengetahui. (QS. Ali Imran: 29) (Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/9-10).

      19 hours ago ·  ·  5 people

    • Eka Nugraha 
      ‎"Setiap amalan yg dikerjakan oleh seorang manusia yg berakal dan memiliki kemampuan berikhtiyar, maka amalannya mesti bersumber dari niat; tidak mungkin orang yg berakal lagi memiliki kemampuan berikhtiyar mengerjakan suatu amalan tanpa niat." (Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/12).

      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Sebagian pengikut Imam Syafi'i telah salah memahami perkataan Imam Syafi'i ketika beliau menyebutkan perbedaan antara shalat dan ihram.
      Dalam penjelasannya itu Imam Syafi'i mengatakan, "...shalat permulaannya adlh ucapan."
      Sebagian pengikutnya itu memahami bahwa yg beliau maksudkan adlh mengucapkan niat, padahal yg beliau
      maksudkan tdk lain adlh takbiratul ihram." (Kitab Majmu’ Al-Fatawa XVIII/362)

      19 hours ago ·  ·  6 people

    • Dadan Hamdan Syukrillah 
      ibnu Utsimin ulama kapan salaf bukan ? hihihiihi
      ngaku salafy namun ulama sandaran dan rujkan ulama yg wallua'lam benar ulama yg diakui dunia atau tidak ?


      Melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) hukumnya sunnah. Kesunnahan ini diqiyaskan dengan melafadzkan niat Haji, sebagaimana Rasulullah dalam beberapa kesempatan melafadzkan niat yaitu pada ibadah Haji.

      عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَ...مِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّا (رواه مسلم)
      “Dari sahabat Anas ra berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW mengucapkan “Aku memenuhi panggilan-Mu (Ya Allah) untuk (mengerjakan) umrah dan haji” (HR. Imam Muslim)

      Dalam buku Fiqh As-Sunnah I halaman 551 Sayyid Sabiq menuliskan bahwa salah seorang Sahabat mendengar Rasulullah SAW mengucapkan (نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ اَوْ نَوَيْتُ الْحَجَّ) “Saya niat mengerjakan ibadah Umrah atau Saya niat mengerjakan ibadah Haji”

      أنه سمعه صلى الله عليه وسلم يقول : " نويت العمرة ، أو نويت الحج
      Memang, ketika Rasulullah SAW melafadzkan niat itu ketika menjalankan ibadah haji, namun ibadah lainnya juga bisa diqiyaskan dengan hal ini, demikian juga kesunnahan melafadzkan niat pada shalat juga diqiyaskan dengan pelafadzan niat dalam ibadah haji. Hadits tersebut merupakan salah satu landasan dari Talaffudz binniyah.

      Hal ini, sebagaimana juga dikatakan oleh al-‘Allamah al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (ابن حجر الهيتمي ) didalam Kitab Tuhfatul Muhtaj (II/12) ;

      (ويندب النطق) بالمنوي (قبيل التكبير) ليساعد اللسان القلب وخروجا من خلاف من أوجبه وإن شذ وقياسا على ما يأتي في الحج
      “Dan disunnahkan melafadzkan (mengucapkan) niat sebelum takbir, agar lisan dapat membantu hati dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkan ini) adalah syad ( menyimpang), dan Kesunnahan ini juga karena qiyas terhadap adanya pelafadzan dalam niat haji”

      Qiyas juga menjadi dasar dalam ilmu Fiqh,

      Al-Allamah Asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz didalam Fathul Mu'in Hal. 1 :

      واستمداده من الكتاب والسنة والاجماع والقياس.
      Ilmu Fiqh dasarnya adalah kitab Al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma dan Qiyas.

      Al-Imam Nashirus Sunnah Asy-Syafi'i, didalam kitab beliau Ar-Risalah الرسالة :

      أن ليس لأحد أبدا أن يقول في شيء حل ولا حرم إلا من جهة العلم وجهة العلم الخبر في الكتاب أو السنة أو الأجماع أو القياس
      ..selamanya tidak boleh seseorang mengatakan dalam hukum baik halal maupun haram kecuali ada pengetahuan tentang itu, pengetahuan itu adalah al-Kitab (al-Qur'an), as-Sunnah, Ijma; dan Qiyas.”

      قلت لو كان القياس نص كتاب أو سنة قيل في كل ما كان نص كتاب هذا حكم الله وفي كل ما كان نص السنة هذا حكم رسول الله ولم نقل له قياس
      Aku (Imam Syafi'i berkata), jikalau Qiyas itu berupa nas Al-Qur'an dan As-Sunnah, dikatakan setiap perkara ada nasnya didalam Al-Qur'an maka itu hukum Allah (al-Qur'an), jika ada nasnya didalam as-Sunnah maka itu hukum Rasul (sunnah Rasul), dan kami tidak menamakan itu sebagai Qiyas (jika sudah ada hukumnya didalam al-Qur'an dan Sunnah).

      Maksud perkataan Imam Syafi'i adalah dinamakan qiyas jika memang tidak ditemukan dalilnya dalam al-Qur'an dan As-Sunnah. Jika ada dalilnya didalam al-Qur'an dan as-Sunnah, maka itu bukanlah Qiyas. Bukankah Ijtihad itu dilakukan ketika tidak ditemukan hukumnya/dalilnya dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah ?

      Jadi, melafadzkan niat shalat yang dilakukan sebelum takbiratul Ihram adalah amalan sunnah dengan diqiyaskan terhadap adanya pelafadzan niat haji oleh Rasulullah SAW. Sunnah dalam pengertian ilmu fiqh, adalah apabila dikerjakan mendapat pahala namun apabila ditinggalkan tidak apa-apa. Tanpa melafadzkan niat, shalat tetaplah sah dan melafadzkan niat tidak merusak terhadap sahnya shalat dan tidak juga termasuk menambah-nambah rukun shalat.

      19 hours ago ·  ·  2 people

    • Eka Nugraha Apa ada yg melapazkan niat ketika hendak berdzikir atau membaca Al Qur'an?
      19 hours ago · 

    • Ana Rita Rizki saya tidak...
      19 hours ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah ana ga tau kalau masalh itu.... namun kalo melafadzkan niat shalat, shaum dan haji ane tau.....
      19 hours ago · 

    • Eka Nugraha hmm ...
      sekali lagi jawab dgn tegas.

      Apakah ada yg melapazkan niat ketika hendak berdzikir atau membaca Al Qur'an?

      19 hours ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah ana ga tau.... ^_^ ane belum nanya ama seluruh umat islam ^_^ smile
      19 hours ago · 

    • Nining Sugiarti 
      sdh ada tuntunan solat lengkap dari rasulullah ko malah nambah2in lafaz niat yg ga pernah dicontohkan dari rasul?berarti masih menganggap ada kekurangan dlm tuntunan solat shg membuat2 (berbuat bid'ah)lafaz niat yg tdk pernah dicontohkan rasul didlm solat dunk...pdhl solat itu ibadah yg sdh jelas ada dalil tuntunannya,wah2 yg jelas spt ini sj sdh ditambah2i apalagi yg laen..nyusah2in amat sih..buat2 perkara baru,menganggap islam ini masih blm sempurna? kan mudah hanya tinggal ngerjakan ibadah yg sdh jelas dalil dan kesohihnya sj..dan bersikap hati2 dg bhy bid'ah yaitu api neraka..apkh mo hasanah mpn dolalah..lebih aman ga berbuat bid'ah tp jalani sesuai tuntunan sunnah yg dicontohkan rasul tercinta..

      18 hours ago ·  ·  3 people

    • Dadan Hamdan Syukrillah nining : lanaa a'maluna walkum a'maalukum

      jangan fitnah ye, jgn biasakan suudzon, khawatir km mati suulkhotimah

      10 hours ago · 

    • Eka Nugraha Dadan Hamdan Syukrillah, jawablah yg serius, apa ada yang mengucapkan niat ketika hendak berdzikir atau membaca Al Quran karena sholat terdiri dari mengucapkan dzikir dan membaca Al Quran?
      10 hours ago · 

    • Tri Wahyuni III Menyimak
      8 hours ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah 
      kalo mengucapkan niat sholat ada, kenapa ? itu bukan termasuk rukun dan dikerjakan sebelum sholat, karena sholat itu dimulai dengan takbirotul ihrom dan diakhiri dengan salam


      setiap orang berbeda, ada yang hatinya mudah goyang, fikirannya kemana2, sering waswas, dsb. maka untuk memperteguh hati ulama salafusholeh berijtihad maka melafadzkan niat di sunnahkan baik dikalangan ulama syafi'iyyah dan maliki, namun apabila hati sudah mantap tanpa dilafadzkan maka silahkan.....

      5 hours ago ·  ·  1 person

    • Eka Nugraha Dadan Hamdan Syukrillah, siapa nama orang yg mengarang ucapan "Usholli"?
      jika tidak diketahui mengapa diikuti?

      about an hour ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah Nabi bersada : sholluu kaa roaitumuuni usholli

      talaffudz binniat kata ulama itu hanya sebagaTAKIID atau PENGUAT karena niat itu dengan NIAT ITU DENGAN HATI BUKAN DENGAN LISAN

      yang menyatakan hal itu bukan saya namun ulama salaf

      about an hour ago · 

    • Eka Nugraha Dadan Hamdan Syukrillah, sekali lagi ana tanya, harap dijawab sesuai pertanyaan, jangan mencla-mencle.
      1. siapa nama orang yg mengarang ucapan "Usholli"?
      2. jika tidak diketahui mengapa diikuti?

      about an hour ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah 
      ‎1. Al-Allamah asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari (Ulama Madzhab Syafi’iiyah), dalam kitab Fathul Mu’in ...bi syarkhi Qurratul 'Ain bimuhimmati ad-Din, Hal. 16 ;


      . (و) سن (نطق بمنوي) قبل التكبير، ليساعد اللسان القلب، وخروجا من خلاف من أوجبه.

      2. Al-Imam Muhammad bin Abi al-'Abbas Ar-Ramli/Imam Ramli terkenal dengan sebutan "Syafi'i Kecil" [الرملي الشهير بالشافعي الصغير] dalam kitab Nihayatul Muhtaj (نهاية المحتاج), juz I : 437 :

      وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ
      خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ

      3. Asy-Syaikhul Islam al-Imam al-Hafidz Abu Yahya Zakaria Al-Anshariy (Ulama Bermadzhab Syafi'iyah) dalam kitab Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Ath-Thullab (فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب) [I/38] :

      ( ونطق ) بالمنوي ( قبل التكبير ) ليساعد اللسان القلب

      4. Diperjelas (dilanjutkan) kembali dalam Kitab Syarah Fathul Wahab yaitu Hasyiyah Jamal Ala Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Thullab, karangan Al-'Allamah Asy-Syeikh Sulaiman Al-Jamal ;

      وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنْ الْوَسْوَاسِ وَخُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهُ انْتَهَتْ

      6. Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib Asy-Syarbainiy, didalam kitab Mughniy Al Muhtaj ilaa Ma'rifati Ma'aaniy Alfaadz Al Minhaj (1/150) ;

      ( ويندب النطق ) بالمنوي ( قبل التكبير ) ليساعد اللسان القلب ولأنه أبعد عن الوسواس

      7. Al-'Allamah Asy-Syaikh Al-Imam Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj (السراج الوهاج على متن المنهاج) pada pembahasan tentang Shalat ;

      ويندب النطق قبيل التكبير
      ليساعد اللسان القلب

      8. Al-‘Allamah Al-Imam Syayid Bakri Syatha Ad-Dimyathiy, dalam kitab I’anatut Thalibin (إعانة الطالبين) [I/153] ;

      (قوله: وسن نطق بمنوي) أي ولا يجب، فلو نوى الظهر بقلبه وجرى على لسانه العصر لم يضر، إذ العبرة بما في القلب. (قوله: ليساعد اللسان القلب) أي ولانه أبعد من الوسواس. وقوله: وخروجا من خلاف من أوجبه أي النطق بالمنوي

      9. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Al-Imam Jalaluddin Al-Mahalli, di dalam kitab Syarah Mahalli Ala Minhaj Thalibin (شرح العلامة جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين) Juz I (163) :

      (وَيُنْدَبُ النُّطْقُ) بِالْمَنْوِيِّ (قُبَيْلَ التَّكْبِيرِ) لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ

      10. Didalam Kitab Matan Al-Minhaj lisyaikhil Islam Zakariyya Al-Anshariy fi Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i :

      "(disunnahkan) melafadzkan (mengucapkan) niat sebelum Takbir (takbiratul Ihram)"

      11. Kitab Safinatun Naja, Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Fadlil Salim bin Samiyr Al-Hadlramiy ‘alaa Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i ;

      النية : قصد الشيء مقترنا بفعله ، ومحلها القلب والتلفظ بها سنة

      12. Didalam kitab Niyatuz Zain Syarh Qarratu 'Ain, Al-'Allamah Al-'Alim Al-Fadil Asy-Syekh An-Nawawi Ats-Tsaniy (Sayyid Ulama Hijaz) ;

      أما التلفظ بالمنوي فسنة ليساعد اللسان القلب

      13. Kitab Faidlul Haja 'alaa Nailur Roja, Al-'Alim Ahmad Sahal bin Abi Hasyim Muhammad Mahfudz Salam Al-Hajiniy ;

      قوله واللفظ سنة) اللفظ بمعنى التلفظ مصدر لفظ يلفظ من باب ضرب يضرب أى والتلفظ بها أى بالنية سنة فى جميع الأبواب كما قاله حج خروجا من خلاف موجبه

      14. Kitab Minhajut Thullab,

      وسن نية نفل فيه وإضافة لله ونطق قبيل التكبير وصح أداء بنية وقضاء وعكسه لعذر وتكبير تحرم مقرونا به النية

      15. Kitab Minhaj Ath-Thalibin wa Umdat Al-Muftin,

      والنية بالقلب ويندب النطق قبل التكبير

      about an hour ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah 
      ‎16. Al-'Allamah Asy-Syaikh Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy, didalam kitab Minhajul Qawim (1/191) ;


      فصل في سنن الصلاة وهي كثيرة ( و ) منها أنه ( يسن التلفظ بالنية ) السابقة فرضها ونفلها ( قبيل التكبير ) ليساعد اللسان القلب وخروجا من خلاف من أوجب ذلك

      17. Al-'Allamah Asy-Syaikh Al-Imam Sulaiman bin Muhammad bin Umar Al-Bujairamiy Asy-Syafi'i, Tuhfatul habib ala syarhil khotib(1/192), Darul Kutub Ilmiyah, Beirut - Lebanon ;

      قوله : ( ومحلها القلب ) نعم يسن التلفظ بها في جميع الأبواب خروجاً من خلاف من أوجبه

      18. Al-'Allamah Al-Imam Muhammad Asy-Syarbiniy Al-Khatib, didalam kitab Al-Iqna' Fiy Alfaadh Abi Syuja', pada pembahasan "Arkanush shalah" ;

      ويندب النطق بالمنوي قبيل التكبير ليساعد اللسان القلب ولأنه أبعد عن الوسواس

      19. Didalam kitab Al-Wafi Syarah Arba'in An-Nawawi, Asy-Syekh Musthafa Al-Bugha & Asy-Syekh Muhyiddin Misthu, telah menjelaskan tentang hadits No.1,

      ومحل النية القلب؛ فل يشترط التلفظ بها؛ ولكن يستحب ليساعد اللسان القلب على استحضارها

      20. Didalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah (Syarah) 'alaa Al-Adzkar An-Nawawiyah (1/54), Asy-Syekh Muhammad Ibnu 'Alan Ash-Shadiqiy mengatakan,

      نعم يسن النطق بها ليساعد اللسان القلب ولأنه صلى الله عليه وآله وسلم نطق بها في الحج فقسنا عليه سائر العبادات وعدم وروده لا يدل على عدم وقوعه

      21. Di riwayatkan dari Al-Hafidz Al-Imam Ibnu Muqri' didalam kitab Mu'jam beliau (336) tentang Imam Syafi’i :

      أخبرنا ابن خزيمة حدثنا الربيع قال كان الشافعي إذا أراد أن يدخل في الصلاة، قال: بسم الله، موجها لبيت الله، مؤديا لفرض الله، الله أكبر

      22. Kitab Hawasyi Asy-Syarwaniy (1/240) ;

      قوله: (سنن كثيرة) منها تقديم النية مع أول السنن المتقدمة على غسل الوجه فيحصل له ثوابها كما مر ومنها التلفظ بالمنوي ليساعد اللسان القلب

      23. Kitab Kasyfu As-Saja,

      (فصل): في بيان أحكام النية ....(ومحلها القلب والتلفظ بها سنة) ليعاون اللسان القلب، وسمي القلب قلباً لتقلبه في الأمور كلها أو لأنه وضع في الجسد مقلوباً كقمع السكر وهو لحم صنوبري الشكل أي شكله على شكل الصنوبر قاعدته في وسط الصدر ورأسه إلى الجانب الأيسر

      24. Kitab Al-Muhadzab (المهذب في فقه الإمام الشافعي),

      فصل في فرض النية ..... فإن نوى بقلبه دون لسانه أجزأه ومن أصحابنا من قال ينوي بالقلب ويتلفظ باللسان وليس بشيء لأن النية هي القصد بالقلب ويجب أن تكون النية مقارنة للتكبير لأنه أول فرض من فروض الصلاة

      25. Kitab Mukhtashar Ar-Risalatul Wahbiyyah fiy Sunanish Shalaati Ar-Raba'iyyah, ta'lif Al-'Allamah Asy-Syarif Hamid bin Abdullah Al-Husainiy Al-A'rajiy Al-Maradiniy ,

      الفصل الأول في سنن النية :فمنها ، النطق باللسان قبل التكبير ومنها ، الإضافة إلى الله تعالى

      26. Al-Fiqhu 'alaa Madzahibil Arba'ah,

      يسن أن يتلفظ بلسانه بالنية، كأن يقول بلسانه أصلي فرض الظهر مثلاً، لأن في ذلك تنبيهاً للقلب، فلو نوى بقلبه صلاة الظهر، ولكن سبق لسانه فقال: نويت أصلي العصر فإنه لا يضر، لأنك قد عرفت أن المعتبر في النية إنما هو القلب، النطق باللسان ليس بنية، وإنما هو مساعد على تنبيه القلب، فخطأ اللسان لا يضر ما دامت نية القلب صحيحة، وهذا الحكم متفق عليه عند الشافعية والحنابلة، أما المالكية، والحنفية فانظر مذهبهما تحت الخط (المالكية، والحنفية قالوا: إن التلفظ بالنية ليس مروعاً في الصلاة، الا إذا كان المصلي موسوساً، على أن المالكية قالوا: إن التلفظ بالنية خلاف الأولى لغير الموسوس، ويندب للموسوس الحنفية قالوا: إن التلفظ بالنية بدعة، ويستحسن لدفع الوسوسة.

      Diantara Ulama Hanafiyah memang ada yang mengatakan bahwa melafadzkan niat adalah bid’ah namun disunnahkan untuk menghilangkan was-was, dengan demikian maka maksud bid’ah tersebut adalah bid’ah yang baik sebab ulama Hanafiyah mensunnahkannya jika untuk menghilangkan was-was.

      about an hour ago · 

    • Eka Nugraha siapa nama orang yang pertama kali mengarang ucapan "Usholli"?
      kenapa mencla-mencle?

      about an hour ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah lha, pertanyaan aneh buanget..... ucapan usholli artinya apa bos ? saya niat sholat betul ?

      sudah ada sejak zaman salaf dulu.... ane belum lahir bos..... kalo ane tanya kamu siapa yang pertama kali dakwah di internet ? wkwkwwk binun kan ?

      about an hour ago · 

    • Sinar Lentera manusia jaman sekarang merasa malu kalau mengatakan dirinya tidak tahu.
      about an hour ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah coba mas lihat kitab fiqh 'ala madzaahibil arba'ah

      supaya terang benderang...

      about an hour ago · 

    • Eka Nugraha sipp ... tidak tahu.
      about an hour ago · 

    • Nining Sugiarti ‎@dadan,ya sdh..sy minta ma'af kl ada perkataan sy yg menyakitimu,kr memang yg sy tuliskan adlh isi ht sy dlm melihat masalah ini..bagimu amalanmu,bagiku amalanku,kita akan bertanggungjawab thdp amalan kt masing2..
      53 minutes ago · 

    • Sinar Lentera Allah Ta'ala berfirman:
      Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

      51 minutes ago ·  ·  2 people

    • Yeti Setia Parawiati Saya mengikuti Ustadz Eka yang ajaran/pemahamannya sesuai Al-Qur'an wa Sunnah...
      7 minutes ago · 

    • Dadan Hamdan Syukrillah kok taqklid ma ustadz? ^_^ lha ulama salafnya yang ane subutin diatas kok ga diikutin ? ^_^ ini nih fanatik buta...
      Unable to post comment. Try Again
Artikel Terkait

Comments
2 Comments

2 comments:

Umi Kaltsum said...

http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/12/03/hukum-melafazkan-niat/

Subhanallah..subhanallah..subhanallah..
Inilah tulisan mendalam Ust. Muhammad Mu'afa yang kami tunggu2 ^_^ tentang HUKUM MELAFADZKAN NIAT...insyaAllah mencerahkan..

Di dalamnya dijelaskan 11 argumentasi terpenting yang menunjukkan MUBAHNYA pelafalan niat...12 tanggapan beliau thd. sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa melafalkan niat dalam ibadah adalah haram, bahkan bid’ah...tanggapan thd. pendapat yang mensunnahkan dan mewajibkan...DAFTAR NAMA PARA ULAMA YANG TIDAK MELARANG PELAFALAN NIAT..dan terakhir adalah pesan beliau ttg. penyikapan dalam adab/tata krama terhadap ikhtilaf ulama...

Umi Kaltsum said...

http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/12/03/hukum-melafazkan-niat/

Berikut petikannya...

"Melafalkan niat untuk melakukan ibadah hukumnya mubah bukan haram, wajib atau sunnah/mandub/mustahabb. Kemubahan ini tidak membedakan apakah ibadah tersebut ibadah Mahdhoh seperti shalat, puasa Wudhu, Mandi Junub, Tayamum, Zakat, Haji, Umroh, berkurban, Kaffaroh,I’tikaf dll ataukah Ghoiru Mahdhoh seperti berbakti kepada orangtua, shilaturrahim, membezuk orang sakit dll, juga tidak membedakan apakah ibadah tersebut manfaatnya juga dirasakan hamba yang lain seperti menghajikan orang lain ataukah tidak, juga tidak membedakan apakah ibadah tersebut dilakukan langsung setelah pelafalan ataukah ada jarak waktu. Semuanya mubah selama lafadz niatnya tidak bertentangan dengan syara’, baik untuk kepentingan mengajari, menguatkan niat, menghilangkan was-was, menegaskan maksud, dan semua kepentingan yang syar’i. Namun kemubahan ini adalah mubah dari segi pelafalan itu sendiri, bukan menjadi syarat sah, sifat wajib, apalagi rukun niat. Jika niat dilafalkan, hendaknya tidak dilakukan terus menerus, dan mengucapkannya juga harus pelan jika dimungkinkan mengganggu ibadah orang lain. Jika pelafalan niat itu untuk selain ibadah seperti jual beli, ijaroh, wakalah, syirkah, nikah, talak, rujuk, sumpah, nadzar dan yang semisal, maka lebih jelas lagi kemubahannya."

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...